Skip to content

Megarini Puspasari: Lewat HoshiZora Foundation Raih L’Oreal Women of Worth

Februari 16, 2015

Megarini Puspasari di indonesiaproud wordpress comSenyum cerah menghiasi wajah Megarini Puspasari saat tampil di Hotel Dharmawangsa, Jakarta pada 9 Desember 2014 untuk menerima anugerah L’Oreal Women of Worth Indonesia bersama tiga perempuan inspiratif lainnya.

“Women of Worth” adalah program khusus dari L’Oréal Paris yang bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada para wanita yang telah memberikan inspirasi bagi wanita dan lingkungan sekitarnya. Wanita yang dalam kerendahan hatinya dapat membawa perubahan positif terhadap dirinya, keluarganya, lingkungannya, atau bahkan seluruh wanita di Indonesia.

Didampingi pengusaha Dewi Motik dan artis Dian Sastro yang merupakan anggota tim juri L’Oreal Women of Worth Indonesia, perempuan yang akrab disapa Mega tersebut menceritakan pengalamannya bersama HoshiZora Foundation, yayasan yang didirikannya dengan komitmen mewujudkan kesamaan hak setiap anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

Berangkat dari pemikiran sederhana, Mega yang saat itu kuliah di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang, mengajak teman-temannya sesama mahasiswa untuk bersedia menyisihkan uang jajan senilai 1.000 yen (ongkos sekali makan siang di Jepang) yang bila dikurskan ke rupiah sekitar Rp100.000 tersebut untuk didonasikan kepada anak-anak di Indonesia guna biaya pendidikan mereka. Aktivitas Mega sejak 2006 itu menyentuh hati tim juri L’Oreal Women of Worth Indonesia sehingga juri akhirnya menganugerahkan predikat Women of Worth kepadanya.

hoshiZora-Foundation di indonesiaproud wordpress com

Mega menuturkan bahwa nama HoshiZora diambil dari bahasa Jepang yang berarti langit yang berbintang. ’’Nama itu menjadi simbol harapan kami agar setiap anak berani bermimpi setinggi bintang di langit dan membuat mimpinya jadi kenyataan,” ujar perempuan kelahiran Bantul, Jogjakarta, 22 Maret 1984, tersebut.

Awalnya berangkat dari mimpi. Ketika SMP, ia punya impian ingin melihat dunia lebih luas. Secara spesifik, dia ingin suatu saat bisa menginjakkan kaki di Jepang dan impian itu tercapai ketika SMA. Pada 2001, Mega yang saat itu duduk di kelas XII SMAN 1 Jogjakarta mengikuti program pertukaran pelajar AFS ke Jepang selama tiga bulan. Di Jepang, dia sempat mengunjungi kampus Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). Pengalaman itu menumbuhkan mimpi baru dalam diri putri dari Bambang Poespo dan Endang Sri Wahyuni tersebut. Suatu hari, dia ingin kuliah di kampus itu.

Seolah sudah berjodoh, ketika pulang ke Jogja, SMA-nya mengadakan seminar pendidikan. Salah satu pesertanya berasal dari APU. Mega langsung mencari tahu bagaimana tes masuk ke salah satu universitas terbaik di Jepang itu. Dia memilih jurusan manajemen. Tidak hanya berhasil masuk, Mega juga mendapat beasiswa full dari kampus dan living cost dari pemerintah Jepang.

“Alhamdulillah, banyak kemudahan yang saya dapatkan. Itu semua berawal dari mimpi,” kenangnya.

Karena itu, Mega ingin berbagi mimpi kepada anak-anak di Indonesia. Di lingkungan tempat asalnya, ia melihat banyak anak yang mengalami kesulitan biaya untuk bersekolah. Karena itu, sejak kuliah di Jepang pada 2002, Mega mulai menyisihkan uang beasiswa dan honor bekerja part time. Di luar jam kuliah, dia memang menjadi asisten dosen dan menjaga media center (semacam warnet) di kampus.

“Honor kerja part time sangat lumayan. Dalam sebulan bisa dapat 40 ribu yen,” ungkap wanita yang pada 2004 bergabung dengan tim relawan pendidikan untuk korban tsunami Aceh.

Dari membantu secara individu, Mega lantas mengajak teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia di Jepang untuk ikut berdonasi menjadi kakak asuh bagi anak-anak Indonesia yang kurang mampu untuk bersekolah. Kemudian, lahirlah HoshiZora Foundation pada 2006 yang dibentuk bersama tiga rekannya.

“Ini sesuatu yang mudah. Hanya dengan menyisihkan 1.000 yen atau setara satu kali makan siang di Jepang, kita bisa membantu biaya pendidikan adik-adik di Indonesia untuk satu bulan,” papar istri dr Syaeful Agung Wibowo itu.

Lulus kuliah pada 2006, Mega mendapat pekerjaan di The Kumon Institute of Education di Osaka, Jepang, selama 3,5 tahun. Dunia pendidikan memang merupakan passion-nya sejak lama. Pada 2010 dia memutuskan resign dan kembali ke tanah air. Selain pertimbangan keluarga (Mega menikah pada 2009 dan harus berjauhan dengan suami di Jogjakarta), pengembangan HoshiZora di Indonesia menjadi alasan kuat bagi dia untuk pulang.

“Dari 2006 sampai 2010, jumlah anak yang bisa dibantu baru 100 orang. Padahal, kami ingin lebih banyak lagi anak yang terbantu,” ujarnya.

Maka, sejak 2010 itu hoshiZora beralih dari sistem relawan menjadi organisasi profesional. Mega lalu merekrut beberapa orang sebagai pengurus sambil terus menyempurnakan sistem.

“Perkembangannya signifikan. Dari 100 anak meningkat jadi 200, lalu 400, dan sekarang mencapai 1.000 anak penerima beasiswa,” terangnya.

Di HoshiZora, donatur disebut Kakak Bintang dan penerima beasiswa disebut Adik Bintang. Siapa saja yang bisa menjadi Adik Bintang? Anak Indonesia yang duduk di bangku SD hingga SMA/sederajat yang memiliki keterbatasan finansial. Si anak bisa mengajukan diri atau direkomendasikan pihak sekolah kepada HoshiZora.

Selanjutnya, tim HoshiZora akan menyeleksi calon Adik Bintang. Mulai seleksi berkas dan nilai rapor, kunjungan ke rumah untuk melihat latar belakang keluarga calon penerima beasiswa, hingga wawancara. Dengan wawancara itu, mereka ingin melihat motivasi belajar calon Adik Bintang.

Sistemnya, Kakak Bintang berkomitmen untuk mendukung Adik Bintang dalam jangka waktu tertentu, minimal satu tahun. Besar donasi yang diberikan senilai Rp100.000 atau 1.000 yen atau USD 12 per bulan. Donasi tersebut digunakan untuk membiayai dana pendidikan Adik Bintang seperti iuran sekolah, uang kursus, seragam, buku, dan sepatu.

Mengapa minimal satu tahun? Sebab, misi HoshiZora adalah membantu biaya pendidikan setiap Adik Bintang hingga lulus SMA. “Kebanyakan Kakak Bintang setelah satu tahun lanjut terus men-support hingga si Adik Bintang lulus SMA. Kalau ada yang berhenti, kami akan mencarikan Kakak Bintang lainnya,” tutur Mega.

Selain memberikan dukungan finansial, Kakak Bintang didorong untuk berkomunikasi dengan Adik Bintang-nya sehingga ikut berkontribusi dalam perkembangan mental dan sosial si Adik Bintang. Komunikasi dapat dilakukan lewat surat, kartu pos, atau e-mail melalui HoshiZora. Setidaknya, setiap enam bulan Adik Bintang menulis surat kepada Kakak Bintang.

“Interaksi dan motivasi dari Kakak Bintang merupakan stimulasi yang kuat untuk si adik. Mereka terdorong semangatnya dengan mengetahui banyak orang yang peduli, tidak sekadar lewat bantuan dana,” lanjut dia.

Tim HoshiZora mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi. Laporan penyaluran donasi, penyebaran, hingga progress report Adik Bintang bisa dipantau Kakak Bintang. Informasi itu juga bisa diakses secara mobile sejak dua tahun terakhir.

“Saat ini jumlah Kakak Bintang sekitar 600 orang. Mereka tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Jepang, Amerika, Kanada, Jerman, Australia, Korea, Prancis, dan banyak lagi,” urai Mega. “Seorang Kakak Bintang juga bisa memiliki lebih dari satu Adik Bintang,” tambahnya.

Di Indonesia, HoshiZora yang berkantor pusat di Jogja memiliki sebelas perwakilan di berbagai daerah. Di antaranya, Lebak, Bawean, Bengkalis, Paser, Bima, Halmahera Selatan, dan Raja Ampat. Perwakilan-perwakilan itu akan mendampingi Adik Bintang yang tersebar di berbagai wilayah mulai ujung barat hingga ujung timur Indonesia.

Dua kali dalam setahun Mega menyelenggarakan hoshiZora Forum untuk memfasilitasi pertemuan Adik Bintang dan Kakak Bintang sekaligus sesi pengembangan bakat secara fun dengan menghadirkan para profesional di bidangnya. Contohnya, pakar astronomi atau teknik. Tidak jarang pula yang mengisi adalah mahasiswa dari Jepang, Kanada, atau Amerika Serikat.

Setelah Adik Bintang lulus SMA, beasiswa dari hoshiZora akan dihentikan. Namun, tim hoshiZora berusaha membantu mengarahkan apabila Adik Bintang memerlukan beasiswa lanjutan. Misalnya, melalui program bidikmisi atau Dompet Dhuafa. Sampai saat ini, Adik Bintang yang sudah kuliah sekitar 50 orang. Mereka berhasil menggapai mimpinya masuk ke berbagai kampus ternama seperti UGM, ITB, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan STAN.

’’Saya selalu terharu, kadang sampai menangis bahagia, mendapat kiriman foto Adik Bintang di depan kampus masing-masing,” ucap Mega yang Oktober lalu diundang ke Social Enterprise World Forum 2014 di Seoul, Korea Selatan, sebagai peraih Certificate of Social Innovator dengan pendirian HoshiZora Tour & Travel pada 2012. Usaha tersebut berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat dan turut menopang operasional yayasan pendidikan.

Perempuan murah senyum ini berharap lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang bisa dibantu melalui hoshiZora Foundation. “Bila semangat berbagi menjadi lifestyle masyarakat, alangkah indahnya kehidupan kita,” sebutnya.

Untuk pengembangan yayasan, dia berharap suatu saat nanti memiliki sekolah, fasilitas outbound, dan camping ground yang semuanya ditujukan untuk pendidikan anak-anak Indonesia.

Sumber: radarlampung.co.id (16/12/14), lorealparis.femaledaily.com/home-women-of-worth-indonesia

One Comment leave one →
  1. Februari 24, 2015 11:35 am

    sangat mengisipirasi sekali untuk para wanita untuk lebih baik lagi dan peduli kepada lingkuangan sekitarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: