Skip to content

2 Mahasiswa ITS Raih “The Best Social Venture Challenge” di Harvard, AS

Maret 17, 2015

R Aditya Brahmana danYabes David Losong di indonesiaproud wordpress com Dua mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, R. Aditya Brahmana dan Yabes David Losong, mencetak prestasi membanggakan dengan berhasil merebut gelar “The Best Social Venture Challenge” dalam kompetisi Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015 yang digelar pada 12-15 Februari lalu di Harvard University, Amerika Serikat.

Aditya dari jurusan Teknik Informatika dan Yabes dari jurusan Teknik Mesin berhasil menyisihkan sekitar 3.000 mahasiswa dari 70 negara di dunia. Mereka berdua dianugerahi satu dari lima penghargaan yang diperebutkan dalam kompetisi tersebut.

Social Venture Challange (SVC) merupakan gelar juara yang diberikan kepada tim yang memiliki proyek sosial yang memberikan dampak terbesar bagi perekonomian masyarakat. Proyek sosial yang diangkat adalah pemberdayaan petani dan peternak di Desa Mojosari, Kabupaten Mojokerto untuk membuat vermikompos berbahan dasar cacing tanah dan limbah kotoran sapi. “Vermikompos tersebut kemudian dijadikan sebagai pupuk untuk meningkatkan produktivitas jagung saat kemarau,” tutur Yabes.

Proyek itu menarik perhatian dan sangat berkesan bagi dewan juri karena berhasil mengubah sesuatu yang jorok bagi khalayak umum menjadi bernilai ekonomi tinggi. “Mereka terbuka pikirannya dengan hal yang menjijikkan, tapi bisa menghasilkan uang,” imbuh Yabes.

Mekanisme kompetisi utama adalah para peserta menjadi representasi dari suatu negara dan dinilai berdasarkan keaktifan diplomasi dengan negara lain dalam memberikan resolusi atas permasalahan dunia. SVC ialah satu dari lima cabang kompetisi.

hnmun 2015 di indonesiaproud wordpress com

Selain satu tim pemenang, terdapat dua tim ITS lainnya yang turut mengikuti perlombaan ini dalam kategori SVC. Keduanya juga berhasil masuk ke babak final. “Negara-negara di Amerika Latin yang paling berat, karena mereka sangat ambisius,” ujar Aditya, partner Yabes. Aditya, Yabes, dan beberapa tim mempersiapkan diri sejak Oktober 2014.

Mahasiswa angkatan 2011 itu mengungkapkan, permasalahan yang dibahas di PBB tidak hanya berkutat mengenai sosial dan hubungan internasional saja. “Tetapi juga permasalahan alam dan eksakta yang membutuhkan campur tangan orang-orang teknik,” kata Aditya.

Untuk itu, Yabes berpesan agar mahasiswa teknik tak ‘alergi’ terhadap bidang sosial, politik, maupun hubungan internasional. Menurutnya, pemikiran-pemikiran mahasiswa teknik dapat diaplikasikan dalam dunia politik. “Sebab engineering atau teknik tanpa politik itu, kuli,” cetusnya.

Sumber: tempo.co  (03/03/15)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: