Skip to content

Film Pendek Lucky Kuswandi Raih 2 Silver Screen Awards Singapore International Film Festival 2015

Desember 10, 2015

film lucky kuswandi SIFF di indonesiaproud wordpress com

Di MasterCard Theatres, Marina Bay Sands, 5 Desember lalu menjadi momen spesial bagi Lucky Kuswandi karena ia satu-satunya sineas yang dua kali naik ke panggung Singapore International Film Festival (SGIFF) ke-26 untuk menerima dua Silver Screen Awards.

Film pendek karyanya berjudul The Fox Exploits The Tiger’s Might yang kisahnya berlatar ketika rezim Orde Baru berkuasa diganjar dua Silver Screen Awards untuk kategori Film Pendek Terbaik Asia Tenggara dan Sutradara Terbaik untuknya.

Silver Screen Awards merupakan penghargaan tertinggi dari SGIFF setiap tahunnya untuk para pemenang seksi kompetisi Asian Feature Film Competition dan Southeast Asian Short Film Competition. Kompetisi internasional Silver Screen Awards memang berfokus pada film-film Asia dengan tujuan memetakan kebangkitan sinema Asia dan mengenali para talenta baru dalam perfilman.

Selain The Fox Exploits The Tiger’s Might dan Lucky Kuswandi, para pemenang Silver Screen Awards dari kategori Southeast Asian Short Film Competition di SGIFF tahun ini, antara lain My Father After Dinner karya Gladys Ng (Film Pendek Terbaik Singapura), Ferris Wheel karya Phuttiphong Aroonpheng (Special Mention), Three Wheels karya Kavich Neang (Youth Jury Prize).

Adapun para pemenang dari kategori Asian Feature Film Competition, yakni film The Fourth Direction arahan Gurvinder Singh (Film Terbaik); Tikkun karya Avishai Sivan (Special Mention); Ryusuke Hamaguchi sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Happy Hour; dan Taha Tegin Ozdemir, Yakup Ozgur Kurtaal, Omer Uluc sebagai penerima penghargaan Penampilan Akting Terbaik berkat seni perannya dalam film Snow Pirates.

Kemenangan Lucky Kuswandi dan The Fox Exploits The Tiger’s Might di SGIFF kemarin melengkapi penghargaan film lain yang belum lama ini sudah diterimanya. Pada medio November lalu, film produksi babibutafilm ini juga memenangkan penghargaan Piala Citra dari Festival Film Indonesia (FFI) 2015 sebagai Film Pendek Terbaik. Bahkan, sehari setelah menang di SGIFF, The Fox Exploits The Tiger’s Might juga memenangkan Jogja Student Film Awards dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-10.

Pada Mei 2015, film yang memperlihatkan relasi seksualitas, kekuasaan dan masyarakat minoritas saat rezim Orde Baru berkuasa ini juga berhasil masuk kompetisi bergengsi International Critics’ Week (La Semaine de la Critique). Inilah seksi yang dihelat paralel dalam Festival Film Cannes 2015. Diakui Lucky, hal menarik dari pemutaran filmnya di berbagai festival film adalah reaksi-reaksi penonton yang berbeda-beda.

“Ketika kami screening di Cannes, mereka (para penonton) mungkin karena jarang menonton film Indonesia dan banyak yang tidak mempunyai historical background dengan apa yang terjadi secara politik di era Orde Baru yang saya bahas di film ini, jadi banyak sekali pertanyaan yang lebih ke historical side-nya,” beber Lucky.

Ia melanjutkan, “Sementara kalau di Singapura, seperti orang-orang juga sudah paham konteks sosial politiknya, jadi mungkin pembicaraannya bisa lebih detail.”

Selain dua kategori penghargaan di atas, Silver Screen Awards juga diberikan kepada proyek film A-Joom-Ma karya He Shuming, karena menjadi Most Promising Project dalam kategori Southeast Asian Film Lab 2015. Dari Indonesia, ada pula sineas yang juga ikuti Film Lab di SGIFF ini, yaitu Jason Iskandar, yang film pendek terbarunya, Langit Masih Gemuruh (The Day The Sky Roared), juga masuk Southeast Asian Short Film Competition.

“Tahun ini gue lebih banyak dapat pengalaman, tahun lalu cuma ikut kompetisi (film pendek Seserahan karya Jason masuk kompetisi SGIFF 2014, red). Tahun kedua ini, gue ikutan Film Lab untuk develop skrip film panjang pertama gue, dan pengalaman seru banget karena mendapat teman dari negara-negara Asia Tenggara lainnya, dapat mentor yang asyik, dan gue bawa pulang treatment yang jauh sudah lebih berkembang dari pas gue sampai di sini,” ujar Jason Iskandar.

Secara total, SGIFF ke-26 ini memutar 146 film dari 51 negara. SGIFF tahun ini juga merupakan bagian dari rangkaian acara dalam Singapore Media Festival (SMF) yang diadakan oleh Media Development Authority (MDA) Singapore. SMF juga menghelat ajang Asian Television Awards, Screensingapore, Asia TV Forum & Market dan Digital Matters.

Sumber: muvila.com (08/12/15)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: