Skip to content

Arsip dan dokumentasi KAA 1955 Masuk Memory of the World, UNESCO

Februari 8, 2016

arsip KAA di indonesiaproud wordpress comArsip dan dokumentasi Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955 akhirnya resmi masuk dalam Memory of the World, UNESCO.

Pada 4 Februari 2016, Menlu Retno Marsudi menerima Dewatap RI untuk UNESCO, Fauzi Soelaiman yang secara resmi menyerahkan sertifikat International Register Memory of the World UNESCO yang telah mengakui arsip dan dokumentasi kegiatan KAA sebagai Memory of the World pada Oktober 2015.

“Saya sangat bangga dengan masuknya arsip dan dokumentasi KAA ini dalam Memory of the World, UNESCO, hal ini berarti warisan budaya kita diakui dunia internasional sebagai warisan dunia yang penting untuk dilestarikan dan dipelajari oleh masyarakat dunia” ujar Retno.

Memory of the World  atau Ingatan Kolektif Dunia merupakan program yang dibentuk oleh UNESCO pada 1992, yang bertujuan untuk melestarikan warisan/pusaka dokumenter di seluruh dunia,  mempermudah akses bagi dunia internasional  terhadap warisan peninggalan bersejarah, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga keberadaan warisan peninggalan bersejarah.

Selain arsip dan dokumentasi KAA 1955, tiga genr​​e Tradisional Tari Bali juga resmi masuk ke dalam Representative List of the Intergovernmental Committee for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO pada 2 Desember 2015.

Tiga genre tersebut merupakan tarian yang terinspirasi oleh alam dan melambangkan tradisi, kebiasaan dan nilai-nilai agama serta sudah diajarkan seca informal kepada anak-anak usia dini.

Dengan masuknya arsip dan dokumentasi KAA ke dalam Memory of the World, Indonesia  memiliki lima warisan dokumenter, yaitu : Arsip VOC (2003); Teks Puisi Klasik I La Galigo (2011); Babad Diponegoro (2013); Kitab Negarakertagama (2013); dan Arsip KAA (2015). Sedangkan  dalam kategori warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage/ICH) beberapa warisan asal Indonesia juga telah mendapatkan pengakuan UNESCO, yakni  Wayang dan Keris (2008); Batik dan Pelatihan Batik (2009); Angklung (2010), Tari Saman (2011); Noken (2012); dan Tiga Genre Tradisi Tari Bali (2015).

Sumber: kemlu.go.id (04/02/16)

 

One Comment leave one →
  1. Februari 8, 2016 11:35 am

    Indonesia jaya di masa lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: