Skip to content

Film Pendek “Prenjak” Menang di Festival Film Cannes

Mei 22, 2016

wregas dan tim di indonesiaproud wordpress com
Dunia perfilman Indonesia pantas berbangga hati, pasalnya film ‘Prenjak’ (In the Year of Monkey) karya sutradara dari Yogyakarta, Wregas Bhanuteja, terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes Film Festival.

Tim ‘Prenjak’ yang datang di Cannes berkekuatan lima orang termasuk sutradara dan penulis cerita Wregas Bhanuteja, sontak melonjak dan berpelukan ketika pembawa acara mengumumkan kemenangan mereka.

‘”Sungguh tak disangka,” kata Wregas, kegirangan. Betapa tidak, film tersebut hanya diproduksi selama seminggu proses editing berhasil membawanya menuju festival film internasional.

“Saya merasa bahwa ini adalah energi yang sangat besar sekali bagi saya. Saya berharap agar api ini tetap menyala. Dan ketika saya pulang ke indonesia, saya akan mulai membuat film lagi dan lagi,” kata Wregas.

Prenjak memenangkan Le Prix Découverte Leica Cine untuk film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompertisi yang disaring dari 1.500 film pendek yang dikirim ke panitia festival.

Direktur Artistik, Charles Tesson, memuji Prenjak sedari awal.

“Sebuah film dengan kedalaman puitik yang mengejutkan. Prenjak karya Wregas Bhanuteja, adalah film yang kelam dan bengal, tentang bagaimana mencari nafkah itu sama harganya dengan sekadar permainan korek api,” pujinya.

Kisahnya bertumpu pada Diah (Rosa Sinegar) seorang gadis di sebuah desa, yang dalam putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp.10.000 perbatang, untuk dinyalakan dan digunakan mengintip vaginanya.

Film berbahasa Jawa sepanjang 12 menit  ini adalah film ketiga Wregas yang berlaga di festival internasional, setelah ‘Lembusura’ di Festival Film Berlin 2015 dan Floating Chopin di Hong Kong Film Festival 2016.

prenjak di indonesiaproud wordpress com
Prenjak mengalahkan sembilan film unggulan lain, yakni Arnie karya Rina B. Tsou (Taiwan – Filipina), Ascensão (Pedro Peralta, Portugal), Campo de víboras (Cristèle Alves Meira, Portugal), Delusion Is Redemption to Those in Distress (O Delírio é redenção dos aflitos, Fellipe Fernandes, Brasil), L’Enfance d’un chef (Antoine de Bary, Prancis), Limbo (Konstantina Kotzamani, Yunani) Oh what a wonderful feeling (François Jaros, KCanada), Le Soldat vierge (Erwan Le Duc, Prancis), dan Superbia (Luca Tóth, Hungaria).

La Semaine de La Critique adalah salah satu festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes pada setiap bulan Mei. Film Indonesia yang pernah dipilih di sini adalah Tjut Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Fox Exploits Tigers Might (Lucky Kuswandy, 2014)

Sumber: bbc.com/indonesia (20/05/16), bintang.com (18/05/16)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: