Skip to content

Septinus George Saa, Sang Bintang Fisika dari Papua

Februari 21, 2017

george-saa-di-indonesiaproud-wordpress-comSeptinus George Saa adalah pemuda asal Papua berprestasi di bidang fisika. Saa menemukan cara menghitung hambatan dari suatu rangkaian tak hingga dari bentuk segi enam. Segi enam beraturan menjadi dasar pembuatan sarang lebah.

“Nah perumusan Saa ini nantinya akan terpakai kalau orang sudah mampu memanfaatkan rangkaian elektronik berbentuk rangkaian sarang lebah ini.” kata Profesor Yohanes Surya, pakar fisika dan pelatih tim Olimpiade Fisika Indonesia.

Menurut Yohanes Surya, prestasi Saa ‘sangat spesial’ karena memiliki ketekunan dan inteligensi untuk memecahkan masalah. ” Tidak mudah untuk melakukan penelitian ini. Saya lihat sendiri bagaimana ia kerja keras mengatasi berbagai kesulitan yang timbul. Lomba penelitian the First Step itu menuntut kesabaran, ketelitian, ketekunan dan intelegensi yang baik untuk memecahkan masalah yang ada,” tambahnya.

George sempat mendapatkan sejumlah tawaran beasiswa setelah menang dalam kompetisi dunia First Step to Nobel Prize dalam Fisika pada April 2004, saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi dengan gelar sarjana dalam bidang bidang Aerospace Engineering di Florida, Amerika Serikat setelah lulus SMA. Saat ini, Saa tengah melanjutkan studi S2 teknik material di Inggris.

Kecerdasaan anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Silas Saa dan Nelly Wafom ini tampak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Selain selalu peringkat pertama, Pria yang akrab disapa dengan sebutan Oge ini juga pernah meraih juara Olimpiade Kimia 2001 tingkat daerah. Tak hanya itu, Oge juga pernah tercatat dalam peringkat delapan dalam lomba matematika kuantum di India, November 2003. Terakhir, Oge meraih medali emas lomba riset fisika di Inggris.

Sementara makalah yang membuat Oge meraih medali emas berjudul “Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor”. Dalam makalah tersebut, Oge mencoba menghitung hambatan dari dua titik dari suatu rangkaian resistor yang membentuk segitiga dan heksagon. Makalah hasil riset selama setahun itu juga menyisihkan ratusan peserta dari 73 negara setelah melalui penjurian yang ketat.

Perjalanan dan impian

Oge bukanlah anak dari keluarga yang berkecukupan. Oge terlahir dari keluarga pegawai negeri sipil kehutanan. Kendati begitu, sejak kecil Oge sudah dididik kedua orang tuanya yang lebih mengedepankan pendidikan. Perjalanannya menimba ilmu tidak selalu bebas hambatan. Masalah finansial – tak ada ongkos ke sekolah dan pembayaran uang sekolah- sempat membuatnya tak bisa ke sekolah, namun George menyatakan “selalu ada jalan untuk menimba ilmu” dan “uang bukan segalanya”. Ia punya mimpi sekolah dasar di Papua digratiskan dan dengan makan siang.

“Menurut saya, sekolah dasar harus digratiskan, anak sekolah di jemput tiap hari pulang perginya. Makanan siang di kasih gratis di sekolah, dan program pembimbingan khusus disediakan untuk ketrampilan khusus. Ini untuk SMP-SMA,” kata George.

“Untuk universitas, saya memimpikan dan ingin menginisiasi penelitian berkolborasi dan sistem database riset yang lengkap. Untuk Papua, di kampus-kampus, saya ingin menciptakan design center dengan small-scale manufacturing capability. Tujuan saya, yakni ‘product creation’ yakni penciptaan produk berbasis teknologi yang akan sangat menguntungkan untuk daerah dalam berbagai aspek misalnya ekonomi dan bisnis,” tambahnya.

Meski sekarang tengah menikmati pendidikan di luar negeri, George berkeinginan dalam tiga sampai lima tahun ke depan ingin masuk ke institusi riset di Indonesia untuk “menggabungkan teknik dirgantara dengan teknik mesin” yang ia pelajari.

Ia juga mengaku tidak tergiur dengan tawaran dari luar negeri yang menjanjikan gaji besar. Saat lulus yang ia inginkan adalah untuk mengabdi kepada negeri.

“Saya balik Indonesia, Papua.” ujarnya ketika ditanya mengenai kemungkinan perekrutan di luar negeri.

Sumber: bbc.com (08/02/17), news.liputan6.com (16/05/04)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: