Skip to content

Ulus Pirmawan Raih Penghargaan Petani Teladan Asia-Pasifik dari FAO

Oktober 18, 2017

Ulus Primawan, petani dari Lembang, Jawa Barat menerima penghargaan “Petani Teladan se-Asia-Pasifik” dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agricultural Organization of the United Nations/FAO) atas keberhasilannya mengembangkan pertanian di Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan bertepatan dengan peringatan hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2017 di Kantor Wilayah FAO untuk Asia dan Pasifik di Bangkok, Thailand. Ulus merupakan salah satu dari 5 petani yang meraih penghargaan itu. Selain Ulus, penghargaan lainnya diserahkan kepada Shafiqa Wahidi asal Afghanistan, Eri Otsu dari Jepang, Boonpheng Nasomyon asal Thailand, dan Indra Kumari Lawati dari Nepal.

Ulus mengaku, penghargaan dari FAO itu diberikan karena dirinya dianggap telah berhasil menciptakan kemandirian dalam pertanian, dari hulu sampai hilir, termasuk dengan mengangkat nasib para petani di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

“Sejak kecil, saya sudah diajarkan bertani oleh kedua orangtua saya. Mereka berdua terus mendidik saya sampai bisa menjadi petani mandiri dan meraih penghargaan dari FAO,” katanya.

Hanya menempuh bangku pendidikan hingga tingkat SD tidak menjadi halangan, karena menurut dia, dengan ketekunan dan keuletan dalam mengolah lahan pertanian, dirinya dipercaya menjadi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Pangupay di kampungnya.

Dia mengatakan, komoditas unggulan petani Gapoktan Wargi Pangupay ialah buncis Kenya (baby buncis). Berkat buncis Kenya itu, hasil pertanian di Kampung Gandok bisa diekspor ke Singapura sejak 2015 lalu.

“Selain mengekspor buncis Kenya, beragam sayuran dari Kampung Gandok juga telah dikirimkan ke swalayan di Bandung dan Jakarta, untuk memenuhi permintaan dari sejumlah perusahaan penyalurr sejak sekitar 1995,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan penghasilan para petani anggota Gapoktan, rantai distribusi hasil pertanian dipangkas dengan menghapus peran tengkulak sehingga membuat nilai jual sayuran lebih tinggi. Untuk 1 kilogram baby buncis, petani bisa mendapat untung sampai Rp5.000 per kg.

“Di kami juga sudah menetapkan standar budi daya pertanian dengan membatasi penggunaan pestisida, pestisida hanya digunakan untuk memberantas hama saja,” lanjutnya.

Ulus mengungkapkan, penyemprotan pestisida mestinya tidak dilakukan setiap saat, tetapi dilakukan apabila ada hama. Bahkan, supaya hasil pertanian terbebas dari bahan kimia, petani Kampung Gandok kini lebih mengutamakan penggunaan pupuk kompos sebagai pupuk dasar sehingga hasil uji labolatorium sayuran yang ditanam lolos residu.

“Selain baby buncis yang jadi andalan kami, sayuran lainnya yang dihasilkan para petani di Kampung Gandok di antaranya ialah tomat, buncis, kol, brokoli, sawo, terong, dan cabai,” tuturnya.

Jauh sebelum petani Kampung Gandok berkembang, pada 2005, beberapa orang peneliti asal Jepang pernah langsung mengunjungi lahan pertanian dan mencicipi buncisnya. Pada waktu itu, mereka menyatakan bahwa buncis yang ditanam para petani berkualitas sempurna dan pantas untuk diekspor.

Berbekal pengalaman menekuni bidang pertanian selama puluhan tahun, sekarang Ulus tak sekadar menjadi contoh atau model petani yang sukses di desanya. Namun lebih dari itu, pengetahuan dalam pengolah pertanian dia bagikan kepada petani lainnya.

Kini, anggota Gapoktan Wargi Pangupay telah menghimpun sekitar 100 petani yang mengelola lahan pertanian seluas sekitar 100 hektare di Kampung Gandok. Untuk mengembangkan hasil pertanian, Gapoktan Wargi Pangupay juga telah menjalin kemitraan dengan kelompok-kelompok tani dari Kabupaten Bandung, Sumedang, hingga Situbondo.

“Penghargaan ini buat Indonesia. Mudah-mudahan dengan penghargaan yang didapat bisa menjadi pemicu bagi pemerintah untuk lebih memerhatikan sektor pertanian,” ujar Ulus.

Siska Widyawati, selaku Communication Specialist FAO Indonesia, menyatakan, FAO memiliki lima strategi objektif ketahanan pangan, yang mana Ulus dinilai dapat mewujudkannya. Menurut dia, Ulus juga telah membawa triple-win keuntungan bagi para petani dan keluarganya, serta kelompok tani.

“Jadi kami itu punya yang namanya triple-win, peningkatan produksi, penambahan penghasilan petani, dan peningkatan nutrisi. Pak Ulus bisa memenuhi tiga kriteria itu,” kata Siska.

Dia menambahkan, pemilihan Ulus sebagai petani teladan juga berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian RI.

“Untuk menentukan Pak Ulus itu, kami bekerja sama dengan Kementan RI. Kementan kan yang lebih tahu, lalu merekomendasikan Pak Ulus. Setelah kami cek dan tahu kisahnya, Pak Ulus memang pantas mendapat penghargaan,” ungkapnya.

Sumber; mediaindonesia.com (17/10/17)

One Comment leave one →
  1. Oktober 18, 2017 11:35 am

    Kapan ya petani seperti Pak Ulus bisa menyebar ke daerah lain. Viva pertanian Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: