Skip to content

Prihatin

Tiga Primata Indonesia Masuk Kategori Paling Terancam Punah

tarsius di indonesiaproud wordpress com

Tarsius

Tiga spesies primata dari Indonesia, yaitu tarsius gunung (Tarsius pumilus), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan monyet simakobu atau biasa disebut monyet ekor babi (Nasalis concolor), masuk dalam daftar “25 Primata Paling Terancam Punah 2012-2014.”

Daftar ini dikeluarkan oleh koalisi grup konservasi dalam Convention on Biological Diversity PBB di Hyderabad, India, Senin (15/10/2012). Asal primata yang paling mencolok berasal dari tiga negara, termasuk Indonesia, yang memiliki primata terancam punah lebih dari dua spesies.

Ketiga negara itu yakni Madagaskar (enam spesies), Vietnam (lima spesies), dan Indonesia (tiga spesies). Dikatakan para peneliti yang terlibat dalam penyusunan daftar tersebut, kebanyakan spesies monyet di Asia terancam karena banyak hal.

Bukan hanya karena perburuan dan kehilangan habitat, melainkan juga perburuan anggota tubuh untuk memuaskan permintaan (pasar) masyarakat Asia untuk masakan eksotis, obat-obatan, dan zat perangsang.

Tarsius gunung (Tarsius pumilus) dari Sulawesi diperkirakan punah sejak tahun 2000. “Hanya ada empat individual yang pernah tercatat oleh peneliti,” ujar Christoph Schwitzer, Kepala Penelitian dari Bristol Conservation and Science Foundation (BCSF).

kukang jawa di indonesiaproud wordpress com

Kukang Jawa

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) masuk kategori terancam punah karena sering diburu untuk peliharaan. Spesies ini juga pernah masuk dalam daftar spesies terancam punah pada tahun 2008-2010.

monyet simakabu di indonesiaproud wordpress com

Monyet Simakabu

Lain lagi dengan monyet simakobu atau biasa disebut monyet ekor babi (Nasalis concolor). Sama seperti primata lain, ancaman utama untuk monyet simakobu adalah kehilangan habitat akibat pembukaan lahan di hutan dan perburuan untuk dijadikan peliharaan.

“Primata adalah saudara terdekat kita dan kemungkinan spesies terbaik untuk hutan hujan kita. Penting juga dicatat jika primata adalah spesies kunci dari rumah hutan tropis,” kata Russell Mittermeier, President of Conservation International.

Spesies teratas dalam daftar “25 Primata Paling Terancam Punah 2012-2014” adalah lemur yang berasal dari Madagaskar. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)

Sumber: Kompas.com (16 Oktober 2012)

____________________________________________

Suharto: Dari Juara SEA Games Jadi Penarik Becak

Dipuja saat berjaya, ditelantarkan saat tidak berdaya. Barangkali itulah gambaran nasib sebagian mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara saat ini.

Cerita sedih dan memilukan itu juga menimpa salah satu atlet balap sepeda nasional asal Surabaya, Jawa Timur bernama Suharto yang kini berprofesi sebagai penarik (tukang) becak.

Siapa sangka, mantan pebalap yang kini berusia 59 tahun itu pernah merebut medali emas pada SEA Games 1979 di Malaysia untuk nomor “Team Time Trial” jarak 100 kilometer.

Bersama tiga rekannya saat itu, yakni Sutiono, Munawar Saleh dan Dasrizal, tim balap sepeda Indonesia mampu mempecundangi pesaingnya dari Malaysia dan Thailand untuk merebut medali emas.

Dua tahun sebelumnya di SEA Games 1977 yang berlangsung di Thailand, Suharto menyumbangkan dua medali perak untuk kontingen “Merah Putih” dari nomor jalan raya beregu dan perorangan.

“Saat itu, tim balap sepeda Indonesia tampil cukup solid sehingga bisa merebut medali emas,” kata Suharto di tempat kosnya di Jalan Kebon Dalem VII, Surabaya.

Ia menceritakan bahwa kekuatan balap sepeda Indonesia pada era 1970-1980-an cukup disegani di kawasan Asia Tenggara.

Kenangan menjadi juara SEA Games tidak pernah dilupakan oleh Suharto. Di kamar kos yang hanya berukuran 2×3 meter, Suharto menyimpan rapi seluruh medali dan piagam penghargaan yang pernah diperoleh dari berbagai ajang balapan nasional dan internasional.

Bapak tiga orang anak itu juga mengumpulkan kliping berita dari berbagai media cetak yang memuat keberhasilan tim balap Indonesia, termasuk juga foto bersama Presiden RI Soeharto.

“Semuanya masih saya simpan dan sekali waktu kalau kangen, saya buka lagi kliping-kliping itu,” ujar pria kelahiran Surabaya pada 18 Februari 1952 itu.

Suharto menuturkan, ketika berhasil merebut medali di ajang SEA Games, dia dan teman-temannya tidak pernah memperoleh bonus uang dari pemerintah, seperti yang diterima atlet-atlet nasional saat ini.

“Kami hanya mendapatkan semacam piagam penghargaan yang diserahkan Gubernur Jatim di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Waktu itu cuma diajak makan-makan, tidak diberi uang saku,” tambahnya.

Perkenalan pada cabang olahraga balap sepeda memang tidak disengaja. Saat itu di awal tahun 1970-an, Suharto memulai latihan dengan menggunakan sepeda “pancal” milik ayahnya yang dimodifikasi menjadi sepeda balap.

Kendati tidak mendapatkan izin dari ayahnya, Suharto nekat mengikuti lomba balap sepeda tingkat lokal Piala Wali Kota Surabaya dan tampil sebagai juara.

Setelah itu, Suharto yang seangkatan dengan mantan pebalap nasional Sutarwi dan Sapari (keduanya dari Jatim) itu, bergabung dengan klub balap sepeda Porseni Korpri Surabaya dan mengikuti beberapa balapan level nasional.

“Saya dipanggil bergabung di tim nasional setelah mengalahkan pebalap nasional pada kejuaraan di Jawa Barat sekitar tahun 1975. Kemudian saya masuk tim SEA Games 1977,” tuturnya.

Bersama sejumlah pebalap nasional, Suharto mendapatkan kesempatan dari Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) mengikuti pemusatan latihan di Swiss selama beberapa bulan.

Setelah hanya merebut medali perak pada 1977, dua tahun berselang Suharto akhirnya mampu mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

“Saya memutuskan berhenti dari balapan pada tahun 1981, karena tuntutan ekonomi. Apalagi, saat itu juga tidak ada janji apa-apa dari pemerintah untuk diberikan pekerjaan,” katanya.

Kerja Serabutan

Setelah memutuskan gantung sepeda, nasib Suharto menjadi tidak menentu. Untuk menyambung hidup, ia terpaksa bekerja serabutan.

Menjadi kernet angkutan kota, membantu tetangganya berjualan ayam kampung atau berjualan alat pendingin ruangan (AC) bekas, pernah dia jalani sebelum akhirnya menjadi tukang becak hingga sekarang.

Bersama istrinya, ia hidup sangat sederhana dan berpindah-pindah tempat kos. Sebelum menyewa kamar kos di kawasan Kebon Dalem VII yang sudah ditempati lebih dari 15 tahun, Suharto pernah kos di kawasan Sukodono, Surabaya.

Sehari-hari dia kini menjadi penarik becak di sekitar kawasan wisata religi Makan Sunan Ampel yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Uang dari hasil menarik becak hanya cukup untuk makan keluarga. Kalau ada sisanya kami tabung untuk bayar sewa kamar kos,” ujarnya.

Namun, hampir tiga bulan terakhir dia harus istirahat dari rutinitas menarik becak, karena penyakit hernia yang dideritanya sejak dua tahun lalu.

Karena merasa tidak tahan dengan sakit yang terus menderanya, Suharto memberanikan diri datang ke kantor KONI Jatim pada sekitar Mei 2011 untuk meminta bantuan.

Ketua Harian KONI Jatim Dhimam Abror Djuraid sangat terkejut dan trenyuh mengetahui kondisi mantan atlet balap sepeda nasional itu.

Apalagi, saat datang ke kantor KONI Jatim, bagian perut Suharto diikat dengan bekas ban dalam sepeda sebagai penahan rasa nyeri akibat penyakit hernianya.

“Saya dibantu Pak Abror untuk menjalani operasi pengangkatan hernia. Sekarang kadang-kadang masih terasa sakit dan belum boleh bekerja berat dulu,” kata Suharto.

Abror mengatakan, pihaknya akan berupaya membantu Suharto untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah, karena pernah memiliki prestasi internasional.

“Pak Harto ini layak mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Dia pernah menjadi juara SEA Games, tapi sekarang hidupnya memprihatinkan,” ujarnya.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memiliki program pemberian hadiah rumah kepada mantan-mantan nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas internasional.

“Saya tidak pernah baca koran, jadi tidak tahu kalau ada program rumah gratis bagi mantan atlet nasional dari pemerintah,” tambah Suharto.

Kendati sudah 30 tahun pensiun dari balap sepeda, Suharto masih memiliki niatan untuk kembali menekuni olahraga yang pernah membesarkan namanya itu.

“Kalau ada kesempatan dan modal, saya pingin menjadi pelatih. Jelek-jelek begini, saya pernah mengikuti pelatihan di luar negeri loh,” kata Suharto menutup pembicaraan.

Sumber: AntaraNews.com, 30 Agustus 2011.

____________________________________________

38 Kursi Batu Megalitikum Situs Terjan Raib!

Sebanyak 38 kursi batu peninggalan megalitikum di kawasan Situs Terjan di Bukit Selodiri, Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, diketahui raib.

Hilangnya puluhan kursi batu peninggalan era 1400 sebelum masehi tersebut terungkap saat Masyarakat Sejarawan Indonesia Rembang bersama Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah setempat meninjau situs tersebut, Senin.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Rembang Edy Winarno mengatakan berdasarkan laporan dari sebuah penelitian yang diterimanya, tercatat ada sekitar 40 kursi batu di sekitar Situs Terjan.

“Namun, dari 40 kursi batu itu, jumlahnya kini tinggal dua buah saja. Temuan ini menjadi sesuatu yang  memprihatinkan,” katanya.

Meski demikian, lanjut Edy, pihaknya belum berani menyimpulkan apakah kursi-kursi batu tersebut hilang dicuri penduduk setempat.

“Hanya, kami tak menampik, kerusakan batu-batu peninggalan megalitikum itu rusak diduga antara lain akibat ulah para pengunjung. Apalagi di kawasan jauh pemukiman penduduk itu sangat minim pengawasan,” katanya.

Selain itu, imbuh ia, faktor alam diyakini turut mempercepat pelapukan. “Kami hanya berharap warga setempat ikut menjaga keberadaan situs, karena itu termasuk warisan peninggalan budaya dunia. Sebab, tercatat ada empat situs megalitikum di Indonesia,” katanya.

Selain Terjan, katanya, ada juga situs peninggalan megalitikum di Pasemah, Sumatra Selatan, Gua Made Jombang dan di Parepare Sulawesi Selatan. “Namun khusus di Situs Terjan, diyakini sebagai peninggalan yang paling lengkap,” katanya.

Untuk mengurangi risiko kerusakan lebih parah, Kepala Desa Terjan Abdul Hadi belum lama ini mengumpulkan delapan orang pengusaha tambang yang beroperasi di kawasan desa setempat.

“Dari pertemuan itu, mereka bersepakat untuk tidak melakukan aktivitas penambangan pada radius 100 meter dari pusat situs,” katanya.

Sumber: Kompas, 12 Juli 2011

____________________________________________

Seribu Spesies Baru Ditemukan di Papua, tapi Sayangnya Terancam Punah

Sejenis biawak spesies Varanus macraei yang ditemukan di Batanta, Papua, tahun 2001 memiliki panjang sekitar 1 meter.

Lebih dari 1.000 spesies baru ditemukan para ilmuwan peneliti di Papua serta Papua Niugini dalam waktu 10 tahun terakhir. Sayangnya, keanekaragaman itu terancam kepunahan akibat tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan laporan terbaru yang disusun oleh World Wild Fund for Nature (WWF), peneliti telah menemukan sebanyak 218 spesies tumbuhan, 43 reptil, 12 mamalia, 134 amfibi, 2 burung, 71 ikan, dan 580 invertebrata. Dengan jumlah sebanyak itu, artinya ditemukan dua spesies setiap dua minggu.

Spesies-spesies baru tersebut ditemukan sepanjang 1998 hingga 2008 oleh kelompok-kelompok tim di berbagai lingkungan dalam pulau itu, mulai dari daerah hutan, perairan, hingga pesisir. “Melihat segi keanekaragaman hayati, pulau ini lebih mirip benua daripada pulau,” cetus Neil Stronach, salah seorang perwakilan dari WWF Western Melanesia.

Sementara itu, Mark Wright, Conservation Science Adviser WWF, menyoroti bahwa, walau kekayaan hayati ini sangat memesona, ancaman kepunahan tidak mungkin dihindari. “Meski ada upaya maksimal yang dibangun oleh organisasi, seperti WWF, sangat jelas bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semua spesies. Hutan akan terus ditebangi, sungai-sungai dibendung, dan pesisir pantai terus dibangun. Sejumlah spesies akan terhapus,” kata Wright.

Pulau yang menampung Papua dan Papua Niugini (dunia internasional menyebutnya pulau New Guinea) merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Pulau ini diketahui memiliki ekosistem yang belum tersentuh. Kawasan hutan hujannya terbesar ketiga di dunia setelah Amazon dan Kongo.

Pulau ini juga menjadi rumah bagi sekitar 6 hingga 8 persen spesies hewan yang ada di muka bumi. Beberapa spesies menakjubkan yang terdapat di pulau tersebut adalah ikan hiu air tawar sepanjang 2,5 meter, kuskus bermata biru, kupu-kupu yang memiliki sayap terlebar, katak dengan gigi taring, lumba-lumba kepala bulat, dan ular buta. (National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Sumber: KOMPAS.com, 30 Juni 2011

____________________________________________

Seni Hikayat Aceh Terancam Punah

Seni hikayat Aceh terancam punah. Saat ini pertunjukan seni itu kian jarang ditemui dalam pergelaran seni pertunjukan atau pesta hajatan dalam masyarakat Aceh.

Selain itu, ribuan hikayat kuno yang pernah ada di Aceh sampai saat ini belum pernah dituliskan dan hanya dikuasai segelintir seniman yang sudah lanjut usia di wilayah Aceh Selatan.

“Sebagian besar masyarakat Aceh sudah melupakan hikayat. Banyak yang sudah tak mengenalnya. Saya sendiri sebagai seniman hikayat sekarang sudah sangat jarang tampil. Dalam lima bulan tak mesti sekali ada undangan,” kata seniman hikayat Aceh, Tengku Muda Balia, Senin (25/4/2011).

Hikayat Aceh merupakan perpaduan antara seni syair tutur dengan lagu. Dalam pertunjukan seni, pemain hikayat biasanya memadukannya dengan alat musik tiup sebagai repertoar. Syair hikayat berisi nasihat, agama, kisah peperangan, budaya Aceh, dan kisah-kisah lain.

Menurut Muda, hikayat adalah seni tutur asli Aceh yang diduga sudah ada sebelum Islam masuk ke Aceh. Pada masa persebaran Islam, hikayat menjadi media dakwah. Lalu, pada masa penjajahan Belanda, hikayat menjadi alat pengobar semangat juang masyarakat Aceh melawan penjajah.

Seni ini mulai tergerus saat terjadi pembersihan para seniman hikayat pada masa setelah pembubaran Partai Komunis Indonesia.

Pada masa konflik, banyak masyarakat yang tak berani memanggungkan hikayat karena takut. Akibatnya, kondisi perkembangan seni ini makin sulit. “Seniman-seniman yang tersisa di Aceh Selatan yang masih hafal hikayat Aceh kuno mungkin tinggal 6 orang dan kini rata-rata sudah usia lanjut,” kata Muda.

Regenerasi juga menjadi masalah yang rumit. Hal ini karena seni hikayat sulit dijadikan sebagai sandaran hidup masa kini.

“Mungkin kalau sekadar pembaca hikayat, banyak yang bisa. Namun kalau pemain hikayat, jarang. Bacaan tentang hikayat pun hampir tidak ada. Hikayat-hikayat kuno yang masih dihafal para seniman sampai sekarang belum ada yang ditulis. Kalau mereka sudah tak ada, Aceh akan kehilangan besar,” kata dia.

Muda sudah beberapa kali menyampaikan masalah ini ke Pemerintah Provinsi Aceh. Namun, sampai sekarang belum ada tanggapan.

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengatakan, ada ribuan teks dalam manuskrip kuno yang mulai tahun ini diupayakan akan dikumpulkan kembali. Teks-teks kuno, yang di dalamnya terkandung hikayat itu, tersebar di berbagai wilayah di Aceh.

“Kami memperkirakan dibutuhkan anggaran paling tidak Rp 5 miliar untuk mengumpulkan kembali manuskrip-manuskrip itu. Peninggalan-peninggalan itu harus diselamatkan karena, selain merupakan warisan budaya Aceh, langkah tersebut juga untuk menghindari pencurian oleh bangsa lain,” kata dia.

Sumber: Kompas, 26 April 2011

____________________________________

Ribuan Manuskrip Kuno Aceh Hilang

Puluhan ribu manuskrip kuno Aceh saat ini belum terdata keberadaannya. Ketidakjelasan tersebut rawan mengundang terjadi klaim oleh negara-negara lain seperti yang dilakukan Malaysia dan Brunei Darussalam yang kini diperkirakan menyimpan ribuan manuskrip kuno asal Tanah Rencong. Padahal, manuskrip-manuskrip tersebut mempunyai nilai yang sangat berharga karena berisi catatan sejarah dan peradaban Aceh sejak abad ke-13.

”Yang tersisa dan tersimpan sekarang tinggal 2.500 manuskrip kuno. Itu sisa manuskrip yang tak dibakar dan dibawa kolonial Belanda saat penjajahan,” kata Wakil Gubenur Aceh Muhammad Nazar kepada Kompas, Minggu (20/3).

Manuskrip kuno tersebut, ujar Nazar, berisi berbagai catatan sejarah menyangkut kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di Aceh sejak abad ke-13. Di dalamnya juga tercatat berbagai hal terkait ilmu astronomi, pengobatan, geologi, anatomi, bahkan ilmu bangunan.

Sebagian di antara teks-teks itu merupakan karya tokoh-tokoh pemikir besar Aceh abad ke-15 seperti Ar-Raniry, Hamzah Fansyuri, dan Jalalludin Al Sumatrani. Sebagian teks-teks tokoh-tokoh besar tersebut dulunya tersimpan di dayah-dayah (pesantren di Aceh). Pada masa perang melawan kolonial, banyak dayah yang dibakar Belanda, termasuk teks-teks peradaban masa lalu Aceh yang besar.

Kepala Majelis Adat Aceh Badruzzaman Ismail mengatakan, banyaknya catatan budaya dan adat Aceh yang hilang itu membuat generasi masa kini Aceh kehilangan pegangan budaya.

Sumber: Kompas, 21 Maret 2011

____________________________________________

Kitab Bahrul Lahut Diklaim Karya Malaysia

Satu dari 113 kitab kuno yang ditemukan Balai Litbang Kemenang Semarang pada penelitian naskah dan kitab kuno di pondok pesantren Sumber Anyar itu ialah kitab Bahrul Lahut (Samudera Ketuhanan).

“Kitab ini pernah diklaim sebagai kitab karya ulama Malaysia, padahal sebenarnya merupakan karya ulama Aceh,” kata Koordinator Tim Peneliti Badan Litbang Kemenang Semarang, Zainul Atfal, Jumat (11/3/2011) siang.

Penelitian kitab kuno di pesantren Sumber Anyar ini merupakan program Kantor Kementerian Agama untuk menyelematkan kitab dan naskah kuno.

Selain di Kabupaten Pamekasan, penelitian oleh Balai Litbang Kemenag Semarang ini juga dilakukan di tiga kabupaten lain di Madura, seperti Kabupaten Sumenep, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.

“Semuanya ada tujuh orang yang melakukan penelitian naskah dan kitab kuno di Madura ini,” terang Zainul.

Di Kabupaten Bangkalan, penelitian naskah dan kitab kuno dilakukan pada Keluarga Syaichona Kholil, di Sampang di salah satu pondok pesantren di daerah Prajan, sedang di wilayah Kabupaten Sumenep, penelitian dilakukan dengan secara menyebar.

“Jadi di Pamekasan ini penelitinya 2 orang, Sampang 2 orang, Pamekasan 2 orang dan di Kabupaten Sumenep sebanyak 3 orang,” kata Zainul Atfal menjelaskan.

Hanya saja, dirinya belum mengetahui jumlah keseluruhan kitab dan naskah kuno yang diteliti tim dari empat kabupaten yang ada di Pulau Garam Madura tersebut.

“Untuk sementara baru di Pamekasan ini karena saya langsung yang melakukan penelitian di sana,” ucap Zainul.

Sumber: Kompas, 11 Maret 2011

____________________________________________

Hutan Taman Nasional Kutai Kian Hancur

Kawasan hutan lindung Taman Nasional Kutai (TNK) di Desa Martadinata, Desa Suka Rahmat dan Desa Suka Damai di Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur kian hancur oleh berbagai aktivitas perusakan lingkungan.

ANTARA di Sangata, melaporkan bahwa kawasan konservasi lingkungan itu sebelumnya sudah rusak akibat aktivitas pembalakan liar dan pembukaan lahan tanpa izin kini kian parah akibat kegiatan penambangan galian C, yakni menggali dan mengambil batu gunung kebutuhan bangunan.

Taman Nasional Kutai disebut-sebut “benteng terakhir hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Kaltim” dengan luas 189.000 Ha. Maraknya kasus perusakan hutan di kawasan itu, diperkirakan hampir 75 persen kawasannya sudah rusak baik dalam tingkatan biasa, parah dan sangat kritis.

Di kawasan itu, selain terdapat hamparan hutan damar terbesar di dunia juga memiliki berbagai satwa langka antara lain, Rusa Sambar, Uwauwa, Orangutan dan Buaya Maura.

Terlihat, puluhan warga yang melakukan kegiatan ilegal atau tanpa izin tetap nekat dengan mendirikan tenda-tenda di sekitar lokasi untuk melakukan kegiatannya sejak pagi hingga sore.

Dilaporkan bahwa warga yang melakukan kegiatan menambang batu gunung sekitar tidak saja melibatkan laki-laki, tetapi puluhan ibu-ibu rumah tangga ikut bekerja sebagai buruh harian. Mereka seperti berlomba menggunakan alat tradisional, seperti cangkul untuk menggali dan palu besar untuk memecahkan batu berukuran besar itu.

Sejumlah kendaraan roda empat dan roda enam antri di lokasi penambangan untuk mengangkut batu berbagai ukuran ke Kota Bontang dan Sangata Kutai Timur

Petugas keamanan seperti tidak berdaya, padahal kegiatan penambangan ilegal itu berjarak sekitar 50 meter dari pos polisi unit Teluk Pandan Sektor Sangata, Kutai Timur.

Irwan (34) warga Desa Martadinata mengatakan bahwa kegiatan warga itu memang tanpa izin dan menyalahi peraturan namun para penambang liar berkilah bahwa hal itu akibat desakan kebutuhan hidup. “Apalagi, kini akibat kondisi ekonomi tidak menentu, kehidupan warga sekitar daerah kian terpuruk,” paparnya.

Bahkan, sebagian penambang liar itu, menurut Irwan adalah orang upahan karena sudah ada cukong, baik dari Kutai Timur maupun Bontang –daerah terdekat lokasi– yang menyiapkan gaji, peralatan dan transportasi untuk membawa keluar batu gunung yang dimanfaatkan untuk proyek bangunan atau jalan tersebut.

Hal senada dikatakan Syamsuddin (55) salah seorang buruh penambang batu yang mengaku kesulitan ekonomi untuk menghidupkan tiga orang anaknya.

Ketua Komisi III DPRD Kutai Timur Kasmidi Bulang, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa dewan akan membuat raperda inisiatif galian C. “Potensi galian C di Kutai Timur cukup besar, makanya perlu ada produk hukum yang mengaturnya,” imbuh dia

Terkait status kawasan itu adalah TNK maka tindakan warga untuk melakukan penambangan liar di kawasan itu melanggar UU tentang Lingkungan Hidup.

Sumber: Antara 27 Januari 2011

____________________________________________

90 Persen Benteng di Indonesia Rusak

Sebanyak 90 persen dari 442 benteng di Indonesia yang diinventarisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata selama tiga tahun terakhir musnah, rusak, dan beralih fungsi. Tim dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala kini tengah mengkaji pemanfaatan benteng-benteng tersebut.

Direktur Peninggalan Purbakala Kembudpar Junus Satrio Atmodjo di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/1), mengatakan, benteng-benteng berupa pilbox atau bungker peninggalan Perang Dunia II yang ada di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi umumnya musnah karena menjadi perkebunan.

Sekitar 50 persen dari 37 benteng peninggalan Perang Diponegoro (1825-1830) di Pulau Jawa rusak dan terbengkalai. Sementara sisanya yang masih berkondisi baik justru dimanfaatkan warga untuk sarang walet, seperti Benteng Pendem dan Willem I di Kecamatan Ambarawa, Jawa Tengah. Ada pula sejumlah benteng yang kini difungsikan untuk rumah tahanan dan markas militer.

Menurut Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Aurora Frida Tambunan, pihaknya tengah merumuskan langkah yang paling tepat untuk pemanfaatan benteng-benteng tersebut.

”Hasil rekomendasi akan kami berikan kepada setiap kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota paling lambat pertengahan tahun ini,” tutur Aurora seusai membuka pameran bertajuk ”Benteng-Benteng: Dulu, Kini, dan Esok” di Benteng Fort Rotterdam, Makassar.

Beberapa benteng yang kondisinya baik dan bernilai ekonomis antara lain Benteng Vredeburg (Yogyakarta), Vastenburg (Solo), Fort Van Der Capellen (Batusangkar), Marlborough (Bengkulu), dan Fort Rotterdam (Makassar).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, baru menyelesaikan revitalisasi tahap pertama Benteng Fort Rotterdam tahun lalu. Biaya sebanyak Rp 10 miliar itu digunakan untuk menata tampilan fisik benteng dan merobohkan gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang berlokasi di sebelah selatan benteng.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel Syuaib Mallombasi, revitalisasi tahap kedua akan dilanjutkan tahun ini dengan merobohkan gedung Radio Republik Indonesia yang berlokasi di sebelah utara benteng.

Sumber: Kompas, 13 Januari 2011

____________________________________________

Anak Cerdas Istimewa di Indonesia Dibajak Singapura, Malaysia, Korea dan Amerika Serikat

Indonesia memiliki sekitar 1,3 juta anak usia sekolah yang berpotensi Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI) atau kerap disebut ‘gifted-talented’. Sayangnya, baru 9.500 (0,7%) anak yang sudah mendapat layanan khusus dalam bentuk program akselerasi/ percepatan.

“Masih sangat banyak siswa CIBI belum memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan mereka,” kata Sekjen Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Asosiasi CIBI) Nasional, Amril Muhammad di Jakarta, Selasa (14/12/2010).

Amril menambahkan seharusnya CIBI perlu mendapatkan akselerasi. Ada dua macam akselerasi yang dapat dilakukan, yaitu akselerasi kontens base dan grade base. Disebut akselerasi kontens jika siswa mampu menguasai bidang ilmu dengan baik. Sementara itu, akselerasi grade jenjang sekolah seperti siswa yang seharusnya sekolah tiga tahun, bisa dipersingkan menjadi dua tahun. “Mereka memiliki kecepatan menyerap lebih dari teman sebayanya,” papar Amir.

Perhatian khusus tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi semata-mata untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Untuk program akselerasi misalnya, ini mencakup grade dan konten. Berdasarkan data tahun 2009, dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki program layanan khusus bagi anak CIBI.

Ia menyebutkan bahwa sejumlah ciri anak ‘gifted-talented’ dapat dikenali antara lain dari kecerdasan intelektualnya yang very superior. Seperti, skor IQ (Intelligence Quotient) 130 ke atas, dengan menggunakan skala Wechsler.

Saat ini ada 311 sekolah yang menyelenggarakan CIBI, di seluruh Indonesia dari 22 provinsi, baik sekolah negeri maupun swasta, serta 10 madrasah, dan yang terbanyak di Provinsi Jawa Timur.

Siswa Pintar Dibajak

Siswa CIBI biasanya diambil oleh perguruan tinggi dari negara luar, seperti dari Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat. Sekarang Korea Selatan juga mulai agresif. “Ada sekitar 300 orang lebih bibit unggul kita yang diambil oleh negara luar, karena mereka mampu memberikan iming-iming kesejahteraan melebihi dari kita,” kata Amir.

Amril menyebutkan bibit unggul yang diambil itu terutama berada di kota besar seperti Malang, Semarang, Jakarta, Bandung, dan Makassar. Bahkan di Singapura, mereka ditawari bekerja sampai usia 55 tahun, sehingga usia produktifnya habis baru dikembalikan ke Indonesia.

“Nah andaikan kita bisa melakukan yang terbaik untuk mereka, dipastikan Indonesia akan berkembang,” katanya.

Menurut dia anak pintar dan cerdas ini mendapat beasiswa dari negara asing, terutama jalurnya melalui jalur olimpiade-olimpiade. “Jadi kalau ada lomba olimpiade di luar negeri, kamar anak Indonesia dihampiri oleh agen-agen asing tersebut, untuk ditawari fasilitas dan segala macamnya,” terang Amir.

Sementara itu, perguruan tinggi di dalam negeri tidak melakukan pendekatan itu. Untuk menjawab permasalahan pembajakan tersebut perlu seluruh pemangku kebijakan melakukan program yang komprehensif bagi anak-anak berbebutuhan khusus ini.

Sumber: Republika, Rabu, 15 Desember 2010
____________________________________________

Temulawak Dipatenkan Asing di AS

Zat aktif temulawak untuk obat lever, antikanker, serta jantung dipatenkan pihak asing di Amerika Serikat. Temulawak merupakan jenis tanaman asli Indonesia dan jika dijadikan sebagai zat aktif obat-obatan komersial, semestinya diatur pembagian manfaatnya.

”Ini bagian dari biopiracy (pembajakan sumber daya genetik) yang semestinya diatur benefit sharing atau pembagian manfaatnya,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) Hardhi Pranata, Selasa (19/10), pada Konferensi Internasional Tanaman Obat-obatan yang diselenggarakan 19-21 Oktober 2010 di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.

Hardhi mengatakan, ketiga obat herbal dari zat aktif temulawak (Curcuma xanthorrhiza) itu sejak dua atau tiga tahun terakhir diproduksi perusahaan obat di Indonesia dan sudah beredar di pasaran. Perusahaan itu pun terikat pendaftaran paten dari Amerika Serikat.

”Harga obat-obatan herbal itu sekarang 1.000 kali lipat lebih mahal daripada obat dengan bahan mentah yang sama yang sebenarnya sejak lama juga diproduksi di dalam negeri,” kata Hardhi.

Obat herbal yang diproduksi negara-negara lain dengan bahan mentah dari Indonesia telah menunjukkan naiknya kecenderungan minat masyarakat dunia terhadap obat herbal, tetapi Indonesia tidak siap melindungi sumber daya genetiknya.

”Tren pengobatan kembali kepada alam mulai diminati dan sebanyak 12 rumah sakit pun berhasil didorong supaya membuka klinik jamu,” kata Hardhi.

Ke-12 rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Umum Sanglah, Bali; RS Kanker Dharmais, Jakarta; RS Persahabatan, Jakarta; dan RS Dr Soetomo, Surabaya.

Kemudian RS Wahidin, Makassar; RS Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta; RS Pirngadi, Medan; RS Syaiful Anwar, Malang; RS Dr Suharso, Solo; RS Dr Sardjito, Yogyakarta; RS Suraji, Klaten; dan RS Kandau, Manado.

Saintifikasi jamu

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional pada Kementerian Kesehatan Indah Yuning Prapti mengatakan, saat ini masih ditempuh program saintifikasi jamu untuk memberikan bukti-bukti ilmiah terhadap isi atau kandungan jamu.

”Saintifikasi ini berkaitan dengan pemberian standar jamu kepada pasien, tetapi sekaligus pencapaian standar bahan-bahan herbal yang digunakan,” kata Indah.

Saat ini beredar sekitar 3.000 produk obat herbal di Indonesia. Menurut Indah, hanya sebagian kecil saja yang sudah teruji secara klinis melalui uji coba pada manusia dan dinyatakan sebagai fitofarmaka.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti mengatakan, saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hanya menyatakan sebanyak lima jenis obat herbal sebagai fitofarmaka, yaitu obat-obatan herbal untuk imunomodulator atau kekebalan tubuh, hipertensi, rematik, diare, dan stamina khusus pria.

Hardhi mengatakan, pada 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan supaya jamu digunakan untuk mengobati pasien oleh para dokter. Namun, harus diakui adanya kesulitan standar bagi dokter untuk meresepkan obat-obat herbal tersebut.

Proses saintifikasi jamu, menurut Hardhi, sekarang ini sangat menunjang tiga prinsip penyembuhan pasien, yaitu tepat dosis, tepat waktu, dan tepat pasien.

”Saintifikasi jamu mendukung pemanfaatan jamu tidak hanya preventif atau pencegahan saja, tetapi juga bisa untuk kuratif atau penyembuhan,” kata Hardhi.

Indah mengatakan, produksi jamu masih sering menghadapi persoalan kesinambungan bahan baku. Namun, sebagian petani produsen bahan baku jamu justru kerap mengeluhkan, bahan-bahan yang diproduksi tidak selalu terserap pasar. (NAW)

Sumber: Kompas, 21 Oktober 2010

____________________________________________

Jenius Muda Indonesia yang “Dirawat” Singapura

Menjadi jawara Olimpiade Fisika di tingkat Asia rupanya tak otomatis bisa menikmati beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Pengalaman getir pada tahun lalu itu dialami Hendra Kwee, 30 tahun. Sebagai pembina di Yayasan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), ia bermaksud membantu anak asuhannya agar bisa mendapatkan beasiswa di Institut Teknologi Bandung.

Namun Hendra hanya bisa terbengong-bengong ketika seorang pejabat Kementerian Pendidikan Nasional meminta agar si pelajar itu kuliah dulu, baru kemudian mengajukan beasiswa. “Kemampuan anak-anak jenius ini sungguh tak dihargai,” kata doktor fisika dari College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat, di kantor Yayasan TOFI pada 19 Mei 2010.

Ia tak habis mengerti, seorang peraih medali emas kompetisi pelajar tingkat Asia, yang sudah mengharumkan nama negara, harus berjuang sendiri untuk bisa kuliah di dalam negeri. Padahal universitas luar negeri mana pun, Hendra melanjutkan, akan menjamin seluruh biaya sejak murid itu mendaftar.

Apesnya lagi, penerima beasiswa di Tanah Air tak serta-merta bisa tenang. Ia ingat betul saat kuliah di ITB, 13 tahun lalu. “Teman saya yang menerima beasiswa harus berutang kanan-kiri karena pencairannya molor lima bulan,” katanya. Karena itu pula, Hendra ogah mengurus beasiswa untuk dirinya sendiri. Padahal ia adalah jawara olimpiade fisika pada 1996.

Entah berkaca pada pengalaman Hendra atau bukan, Winson Tanputraman, 17 tahun, pun lebih memilih kuliah di National University of Singapore (NUS) mulai Juni nanti. “Kampus itu menerima permohonan beasiswa saya,” kata peraih medali emas Olimpiade Fisika tingkat Asia di Thailand, 2009.

Iming-iming dari Negeri Singa itu memang lebih menggoda. “Semua biaya kuliah dan hidup saya ditanggung mereka,” ujar bekas murid SMAK 1 Penabur Jakarta Barat itu.

Yang lainnya, Mohammad Sohibul Maromi, peraih medali perak Olimpiade Fisika tingkat Asia di Taipei, Taiwan, 23-30 April 2010 lalu, sebetulnya sangat ingin kuliah di Singapura. Ia menyebut Nanyang Technological University (NTU) sebagai kampus idaman. “Tapi ibu saya sudah sepuh, kasihan kalau jauh,” kata Romi–panggilannya–yang baru lulus dari SMA I Pamekasan, Madura.

Sementara ini, remaja berkacamata yang mahir bermain gitar itu sudah diterima di Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan. “Tapi akhir Mei saya akan coba ikut ujian di ITB untuk jurusan yang sama,” ujarnya.

Singapura memang salah satu negara tujuan kuliah pelajar Indonesia. Menurut Kepala Fungsi Perlindungan WNI di Kedutaan Besar Indonesia untuk Singapura, Fahmi Aris Inayah, ada sekitar 16 ribu pelajar Indonesia di negara pulau itu. “Mereka tersebar di berbagai kampus swasta dan negeri di sini,” katanya.

Kampus yang paling banyak menampung adalah NTU dan NUS. Kedua kampus ini masuk jajaran kampus top dunia, dan jawara di Asia. Dalam setahun, NTU dan NUS masing-masing menerima 120-an dan 80-an pelajar Indonesia.

Kampus-kampus di Singapura diketahui agresif memburu para pelajar berprestasi dari Indonesia. Mereka memiliki agen yang mendatangi sekolah-sekolah unggulan di kota-kota besar, untuk merayu para pelajar agar kuliah di Singapura.

Beasiswa yang ditawarkan, kata Hendra Wong, Ketua Pemuda Pelajar Indonesia Singapura, amat menggiurkan dibanding yang ditawarkan pemerintah Indonesia. Angkanya memang bervariasi. Tapi setidaknya sudah menutupi biaya kuliah, yang rata-rata bernilai Rp 112 juta per tahun.

Syaratnya, mereka ikut ujian masuk yang digelar di kota-kota yang ditentukan. Hendra menyebutkan, NTU biasa menggelar ujian masuk di Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, dan Magelang. Sedangkan NUS hanya menggelar ujian di Jakarta dan Medan.

Singapura mengikat para penerima beasiswa itu dengan kontrak bekerja di perusahaan milik negara itu selama tiga tahun. Meski setelah itu mereka bebas bekerja di mana saja, menurut Hendra Kwee, ini cara halus agar para jenius itu tetap mengabdi kepada Singapura.

Fahmi menyatakan pemerintah tidak bisa membatasi gerak-gerik pihak Singapura. “Karena (beasiswa itu) tidak ada paksaan,” katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal menjelaskan, prosedur beasiswa di Tanah Air mungkin terkesan birokratis. Tapi hal itu dilakukan karena beasiswa merupakan uang negara, dan pemerintah tak mau kecolongan. Sebab, ada kalanya terjadi si penerima beasiswa ternyata kuliah di kampus lain, atau bahkan tidak mengikuti kuliah sementara uang telah digelontorkan. “Uang-uang itu harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Alokasi dana beasiswa Kementerian Pendidikan Nasional tahun ini Rp 1,5 triliun untuk lebih dari 3 juta siswa dan mahasiswa kurang mampu. Kementerian juga telah menyiapkan Program Beasiswa Bidik Misi sebesar Rp 200 miliar untuk 20 ribu mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

“Tidak ada biaya apa pun. Bebas pendaftaran, SPP, bebas biaya hidup, semuanya kami siapkan,” tutur Menteri Pendidikan M. Nuh kepada pers awal Januari lalu.

Ketua Yayasan TOFI Profesor Yohanes Surya mengaku geram terhadap oknum-oknum pemerintah yang menyepelekan pentingnya merawat para jenius muda kita. “Banyak oknum yang sok ngatur, tapi malah bikin kacau,” katanya.

Ia mengaku terpaksa turun takhta, tak lagi mencampuri keikutsertaan Indonesia di Olimpiade Fisika tingkat internasional tahun depan. Yohanes dipaksa hanya bisa mengikutkan anak didiknya di olimpiade tingkat Asia. Padahal selama ini fulus pemerintah tidak selalu mengalir untuk membuat murid-muridnya menjadi jawara. “Kami lebih banyak didanai sponsor,” ujarnya.

Fasli Djalal membantah pengabaian ini. Pemerintah, katanya, secara prinsip membuka tangan lebar-lebar untuk bekerja sama dengan orang semacam Yohanes Surya. Ada bantuan biaya berupa akomodasi sejak berangkat hingga mereka pulang ke Indonesia. “Kalau berangkat atas inisiatif sendiri, tidak kami bantu,” katanya.

Sumber: TEMPOinteraktif

Video Jenius Indonesia @ http://www.youtube.com/watch?v=5Isar5KNNCY

____________________________________

2.000 WNI Jadi Warga Malaysia

Terkait Infrastruktur Jalan dan Fasilitas Umum
Sejak tahun 1997 sekitar 2.000 warga Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Bengkayang yang tinggal di daerah perbatasan Kalimantan Barat-Serawak memilih berganti kewarganegaraan menjadi warga negara Malaysia. Ini akibat kesenjangan infrastruktur dan fasilitas umum di perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut.

Ketua Himpunan Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan HR Thalib, pada 2 Juni 2010, mengatakan bahwa warga Kalimantan Barat yang berpindah wilayah dan kewarganegaraan itu sebagian besar berasal dari Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau. Sebagian lagi berasal dari beberapa desa di Kabupaten Bengkayang.

”Warga yang akan berpindah wilayah negara dan pindah kewarganegaraan jadi warga negara Malaysia kemungkinan masih akan terus bertambah. Sebab, sampai sekarang infrastruktur dan fasilitas umum di desa-desa itu masih sangat minim,” kata Thalib seraya mengingatkan, desa-desa yang disebutkannya di atas berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak.

Menurut Thalib, beberapa kampung di Suruh Tembawang saat ini hanya bisa dijangkau dengan menggunakan alat transportasi sungai. ”Perjalanan dari Entikong (pintu lintas batas Kalimantan Barat-Serawak) ke sana lebih dari enam jam. Itu pun masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki tiga jam lebih,” ujarnya.

Fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dan sekolah, juga memprihatinkan. ”Sebagian kampung kini makin sedikit penghuninya. Yang tinggal pun umumnya generasi tua. Generasi mudanya lebih memilih menjadi warga negara Malaysia,” kata Thalib.

Tak jauh dari kawasan perbatasan Kalimantan Barat-Serawak, di Malaysia hampir semua fasilitas umum dan infrastruktur tersedia dengan baik. ”Melihat infrastruktur yang seperti itu, mereka (penduduk Kalimantan Barat) pun akhirnya cenderung memilih pindah wilayah. Apalagi, daerah yang disasar tidak terlalu jauh dari kampung mereka,” kata Thalib.

Kepala Bagian Humas Provinsi Kalimantan Barat Numsuan Madsun mengakui, warga Kalimantan Barat yang berpindah wilayah dan kewarganegaraan itu terkait tuntutan perbaikan infrastruktur dan fasilitas umum. ”Pemerintah Kalimantan Barat sudah berkali-kali, bahkan dalam setiap kesempatan, meminta pemerintah pusat segera merealisasikan jalan paralel di wilayah perbatasan sepanjang sekitar 800 kilometer. Sayangnya, sampai hari ini permintaan itu belum terealisasi. Ironis memang,” kata Numsuan.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sangat bergantung pada kebijakan pemerintah pusat terkait masalah perbatasan mengingat hal itu menyangkut hubungan dua negara.

”Kami juga sudah berkali-kali meminta penambahan puskesmas. Tetapi, karena satu puskesmas minimal harus melayani 2.500 warga, sampai hari ini permintaan itu juga belum dipenuhi. Padahal, jumlah penduduk di satu lokasi yang berdekatan (dengan Serawak) tidak sampai 2.500 orang,” ujar Numsuan Madsun.

Sumber: Kompas, 3 Juni 2010

_____________________________

Mereka Pun Masih Kebingungan


Enam remaja lulusan SMA 50 Jakarta Timur – Teo (dari kiri ke kanan), Galang, Gusti (kapten) Jumadi, Adit, dan Roland – meraih hadiah berlatih ke Brasil setelah memenangi streetball Nike Cup di Jakarta pada pertengahan Juni lalu. Mereka pergi ke Brasil selama sepekan. Selain mendapat pelatihan dari pelatih Brasil, di sana mereka juga bertanding dengan klub streetball dari negara ASEAN lainnya.

Galang tak berhenti mengungkapkan rasa galaunya. Tanggapan yang diterima dari sebagian besar guru di sekolahnya, SMA 50 Jakarta Timur, tak pernah memuaskan hatinya. Bahkan, sebagian guru seolah mencibir prestasi yang dicapainya bersama lima temannya.

”Ya, kalau mau dibilang kecewa, saya kecewa juga sih. Guru bagian kesiswaan bilang, terus setelah ini apa, seolah tak peduli dengan prestasi yang kami raih,” kata Galang, salah satu anggota School Gate, tim yang akan mewakili Indonesia pada turnamen streetball di Brasil, pekan ini.

Galang, Gusti, Jumadi, Roland, Adit, dan Teo memenangi turnamen Nike Cup Indonesia yang digelar bersamaan dengan pelaksanaan Piala Dunia 2010. Mereka mengalahkan 320 klub dari seluruh Indonesia. Meski tidak secara resmi mewakili sekolah karena saat turnamen digelar telah dinyatakan lulus, mereka semua berasal dari SMA 50 Jakarta Timur.

”Mungkin karena tidak membawa nama sekolah, prestasi kami tidak dianggap. Padahal, sebelum tampil di turnamen ini kami sudah pamit kepada sebagian guru, termasuk kepada guru kesiswaan,” ujar Galang.

”Kepala sekolah menyatakan bahwa kami tidak mewakili sekolah. Kami dianggap sebagai alumni. Tetapi, apa pun kami kan tetap siswa SMA 50,” ujar Gusti, kapten tim School Gate, yang sudah diterima di Universitas Padjadjaran.

Belum habis kebingungan mereka akan kurangnya apresiasi dari sekolah terhadap pencapaian mereka, Adit kembali bingung menghadapi kenyataan dunia sepak bola Indonesia. ”Saya bingung bagaimana caranya masuk klub, menjadi pemain sepak bola profesional yang sebenarnya,” ujar Adit.

Kebingungan serupa dialami Galang, Jumadi, dan Teo. ”Kami ingin menjadi pemain sepak bola profesional, tetapi kami tidak tahu harus ke mana,” ujarnya.

Di tengah upaya PSSI mendatangkan pemain asing dengan kedok naturalisasi, rasanya lebih baik jika mereka mulai melirik dan membina pemain muda Indonesia asli. Tidak terbayangkan, bagaimana pemain naturalisasi itu akan berkiprah, sementara bakat-bakat melimpah, yang kita miliki, sama sekali tidak pernah disentuh PSSI.

Kebingungan mereka menjadi salah satu bukti, bagaimana PSSI tidak pernah mengurus talenta yang banyak itu. Para pemain School Gate makin membuka mata kita bagaimana ketidakpedulian PSSI memantau pemain muda Indonesia.

Di Brasil nanti, School Gate akan bertanding melawan wakil-wakil tim dari Malaysia, Singapura, dan Thailand dalam sebuah turnamen. Di samping itu, mereka akan mendapat sedikit pelatihan bagaimana bermain sepak bola yang benar dari para pelatih Brasil.

Sumber: Kompas, 5 Agustus 2010

_____________________________________________

Menembus Brunei, Gamang di Negeri Sendiri

Pertunjukan Wayang Menak dengan lakon Amir Hamzah Berguru dibawakan dalang Ki Junaedi dari ISI Yogyakarta, di tengah Seminar dan Pengenalan Wayang Menak yang diadakan oleh Asosiasi Wayang ASEAN bekerja sama dengan Angkatan Sasterawan dan Sasterawani Brunei, di Dewan Bahasa dan Pustaka, Bandar Seri Begawan, Brunei, yang berlangsung pada 13-17 Oktober 2010.

Satu jam sebelum keberangkatan delegasi dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ke Brunei dengan misi mengenalkan wayang menak Indonesia kepada masyarakat Brunei, Rabu (13/10), dalang wayang suket Ki Slamet Gundono melayangkan pesan singkat secara beruntun yang memuat kegalauannya akan eksistensi wayang di Tanah Air.

Ia melaporkan sejumlah insiden yang menimpa pementasan wayang kulit di beberapa daerah, terutama di sekitar Solo, Jawa Tengah, yang mendapat intimidasi dari kelompok orang yang mengatasnamakan agama.

”Kasus terakhir di Bekonang. Saat jejer wayangan, datang kelompok itu sehingga wayangan terpaksa berhenti, lalu terjadi nego. Karena dalang dan tuan rumah bertahan, wayangan tetap dilanjutkan. Ini juga terjadi di Forum Watak. Wayangan mereka anggap musyrik,” tulis Slamet Gundono dalam pesan singkatnya.

Ketua Dewan Kesenian Sukoharjo Joko Ngadimin menjelaskan, insiden di Desa Sembung Wetan, Bekonang, terjadi pada Sabtu (9/10) malam. Sekitar 300 orang ”mengamuk” setelah terpancing provokasi dari warga penonton wayang kulit. Pentas wayang sempat terhenti beberapa saat, tetapi bisa berjalan lagi.

Berbagai kalangan menilai aksi sweeping yang dilakukan oleh kelompok itu terhadap pergelaran wayang di berbagai daerah, baik di kota dan pedesaan di sekitar Solo belakangan ini, merupakan intimidasi terhadap bentuk ungkap budaya yang selama ini memiliki daya hidup di masyarakat.

Pengurus Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) yang menerima laporan spontan menyampaikan keprihatinannya. Ketua Umum Senawangi H Solichin meminta agar insiden-insiden yang menimpa dalang dan pentas wayang di daerah hendaknya dilaporkan berikut datanya secara rinci.

Ketua Pepadi Ekotjipto mengidentikkan aksi kelompok yang mengatasnamakan agama tersebut sebagai premanisme. ”Sekarang ini premanisme merebak di kalangan elite, baik yang berkedok agama, politik, maupun lainnya. Para dalang harus berani menghadapi premanisme seperti itu,” ujar Ekotjipto.

Sekretaris Jenderal Senawangi Amb Tupuk Sutrisno mengungkapkan, pihaknya telah melaporkan fenomena yang tengah merundung dunia pertunjukan wayang di Tanah Air itu kepada Sekjen Kementerian Agama Nazaruddin yang ditemui di Bandar Seri Begawan, Brunei, pekan lalu. ”Pak Nazaruddin berpesan agar persoalan ini tidak di-blow up. Kita juga diminta introspeksi karena menurut beliau, dalam kasus sweeping itu, sering kali didapati warga yang mabuk-mabukan dan bermain judi,” katanya.

Bayang kecemasan terhadap dunia wayang di Tanah Air itu sejenak terlupakan saat rombongan Senawangi menginjakkan kaki di Bumi Brunei. Di negeri yang menganut asas Melayu Islam Beraja ini, Senawangi sengaja ”menawarkan” pertunjukan wayang menak kepada rakyat Brunei (400.000 jiwa). Langkah ini sebagai tindak lanjut Sidang APA III di Manila, Februari 2010.

Brunei adalah satu-satunya negara, dari 10 negara anggota ASEAN, yang belum memiliki seni pertunjukan wayang. Pengertian ”wayang” di sini—disepakati oleh ASEAN Puppetry Asociation (APA) atau Asosiasi Wayang ASEAN—bukan hanya wayang kulit, tetapi juga wayang golek, wayang beber, atau seni pertunjukan boneka (marionnette), termasuk pertunjukan teater tradisional yang membawakan kisah wayang.

Di Brunei, pengertian ”wayang” adalah segala jenis teater, termasuk film. ”Pertunjukan wayang yang dibuat, seperti tayangan di televisi, biasanya sebagai media pendidikan untuk anak. Adapun wayang sebagai budaya tradisi, serta dipertunjukkan secara berkala seperti di Indonesia, belum terdapat di Brunei,” papar Dr Zefri Ariff, budayawan dari Angkatan Sasterawan dan Sasterawani Brunei (Asterawani) dalam Seminar Wayang ASEAN, di Dewan Bahasa dan Pustaka, Bandar Seri Begawan.

Pembicara lain dalam seminar adalah Prof Ghulam-Sarwar Yousof (Malaysia), Dr Suyanto (Indonesia), Prof Amihan Bonifacio-Ramolete (Filipina), dan Dr Chua Soo Pong (Singapura). Seminar yang diikuti pengenalan wayang menak oleh Didy Indriani Haryono dari Senawangi ini dibuka oleh Pejabat Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan, Datin Adina binti Othman.

Didy Haryono memaparkan, wayang menak yang memuat ajaran Islam berkembang di Jawa pada abad ke-17. Kisah menak diangkat dari ”Hikayat Amir Hamzah” yang populer di masyarakat Melayu. ”Menak artinya bangsawan atau ningrat. Ini berhubungan dengan sistem kerajaan yang berlaku di Jawa saat itu,” ujar Didy seraya menambahkan, karena itu jenis wayang menak cocok untuk dibawakan di Brunei mengingat pemerintahannya juga menganut sistem kerajaan (monarki absolut).

Tawaran dari Senawangi yang memilih wayang menak sebagai pertunjukan di Brunei, menurut Tupuk Sutrisno, sebagai ”perjalanan panjang menembus Brunei”. Dari Kedutaan Besar RI di Brunei, pihaknya memperoleh gambaran tentang kesulitan yang bakal dihadapi di Brunei mengingat masyarakatnya berpegang teguh pada nilai-nilai agama (Islam). Selain itu, semua pertunjukan untuk umum harus melalui prosedur sensor.

Sebagai prosedur awal, untuk pertunjukan wayang di Brunei itu, pihak Senawangi harus mengantungi ”surat kebenaran” atau semacam letter of trust. Surat sakti tersebut baru diterima Senawangi tiga hari menjelang keberangkatan ke Brunei. Dan, sebelum dipertunjukkan untuk umum pada Sabtu (16/10), baik wayang menak dengan lakon ”Amir Hamzah Berguru” serta wayang purwa dengan lakon ”Anoman Duta” mesti menjalani uji sensor yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri Brunei.

Ada delapan pegawai kementerian yang dikirim untuk menyaksikan pertunjukan wayang yang dibawakan oleh dalang Ki Junaedi (wayang menak) dan Ki Anton Surono (wayang purwa). Setelah 20 menit menyaksikan pergelaran, petugas sensor menyatakan wayang dari Indonesia itu lolos untuk dipertunjukkan.

Penonton yang hadir di Balai Sarmayuda, tempat pementasan, umumnya mengapresiasi pertunjukan wayang dari Jawa itu. Mereka tampak surprise ketika menyaksikan wayang purwa yang dibawakan Ki Anton Surono yang atraktif dengan dialog-dialog berbahasa Inggris berlogat Tegal, tetapi justru terasa komunikatif.

Sait Haji Jali, Dayangku Hj Fatimah, dan Pangiran Ratna Surya dari Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei menyatakan kekaguman mereka akan budaya wayang yang berkembang di Indonesia. ”Akan sangat sayang kalau budaya tradisi seperti ini punah,” ujar Sait.

Ketiganya tidak melihat wayang identik dengan budaya Hindu, atau sebagai media pemujaan terhadap dewa-dewa. ”Kalau dalam pertunjukan wayang itu didahului dengan mantra-mantra atau pakai sesaji dan membakar kemenyan sehingga orang menjauhi syariat agama, itu yang tidak boleh,” tutur Dayangku Hj Fatimah.

Ketua APA Brunei H Abdul Hakim bin H Moh Yassin mengatakan, setelah menyaksikan pertunjukan wayang dari Indonesia, kalangan budayawan akan mengkaji lebih lanjut bentuk wayang yang cocok diciptakan di Brunei. Tentang anggapan bahwa Pemerintah Brunei melarang pertunjukan boneka sebagai identik pemujaan kepada dewa, Zefri Ariff menjelaskan, larangan itu tidak seketat seperti disangkakan orang. Pasalnya, maskot ayam KFC atau Donald Bebek berbentuk patung pun bisa diterima di Brunei.

Respons positif serta apresiasi masyarakat Brunei terhadap wayang Indonesia itu melegakan dan merupakan sebuah kejutan bagi delegasi dari Senawangi. Namun, di Tanah Air, eksistensi kesenian wayang justru mendapat tantangan baru. Bukan karena transformasi sosial atau modernitas yang menggilas nilai-nilai luhur di dalam wayang, melainkan ”momok” yang lain.

Sumber: Kompas, 22 Oktober 2010

29 Komentar leave one →
  1. surya permalink
    Agustus 2, 2010 11:35 am

    Saya sdg bertugas di aceh saya pingin sekali bergabung dg saudara utk mengolah sampah yg ada di banda aceh kalau diperkenankan bisa dibalas via email saya agar kita bisa berkorporasi. Terima kasih.

    Salam persahabatan,
    Surya

  2. April 5, 2011 11:35 am

    Mantap nih blognya. Terus berkarya!

  3. Juni 27, 2011 11:35 pm

    Whueee…puuulll tumbs up mantapnya…perbanyak lagi mas referensi karyanya.

    BTW..; ijin tag beberapa bagian boleh yah mas hehehe…

  4. RIfal permalink
    September 30, 2011 11:35 pm

    Keren blognya, lanjutkan…

  5. iasa ono permalink
    November 23, 2011 11:35 pm

    Dari semua yang saya baca tadi, sy cuma bs berdoa dan bilang semoga orang indonesia yang teraniaya di negeri sendiri tetap sabar,krn kesabaran itulah yg akan mengkarang batukan tekad kita melawan kedzoliman dan kebodohan pemimpin kita skrg, ojo ntek (habis) angen2mu cah.

    Tunggu sampai mrk pada mati sendiri dan indonesia msh blm bankrut krn dikorupsi habis2n skrg ini, atau kalau kita yang mati duluan pastikan bahwa ALLAH DAN RASUL KITA atau TUHAN kita semua, melihat keteguhan perjuangan kita dan kita ikhlaskan dan serahkan semua kepda sang khalid, jangan pernah marah karena itu bukan hak kita, biar Tuhan yang marah saja. so absolutely state to our spirit dengan berpikir cerdas, bekerja keras and berhati ikhlas = sabar.

    Tapi ya itu mohon maaf indonesiaproud, kl mau ktm pak “burger pakan sapi” Agus ugm ki kepriben krn kerja keras sy di situ. Impian besar saya adalah mengusir penjajahan peternak sapi baik itu oleh australi maupun orang bebal importir plus semua fasilitatornya orang indonesia dw dan itu hrs ada sentuhan teknologi, sosiologi bahkan politik. but first we want to technology after being strong because of technology and then be modern farmers and we can sell the beef and milk the same price as importer so let’s bareng2 what they will do then.

  6. imamprakoso permalink
    Januari 7, 2012 11:35 pm

    iProud, I’m proud of you!!!

  7. Erpi permalink
    Februari 29, 2012 11:35 am

    Kapan Indonesiaku berjaya dan sejahtera..kita adalah negara besar!!

    • Januari 17, 2013 11:35 pm

      Tidak perlu tunggu kapan, Hal yang lebih penting adalah kontribusi apa yg telah kita berikan agar Indonesia tercinta bisa berjaya & sejahtera. Lakukan saja sekarang!

  8. Maret 3, 2012 11:35 pm

    Seneng banget bisa ketemu blog macam ini, nambah wawasan tentang Indonesia, jadi ngeh, bangga, sekalian sedih. Semoga lebih banyak yg tau & baca blog ini dan mau juga nyumbagin tulisan orisinalnya tentang Indonesia.

    • Maret 6, 2012 11:35 pm

      Terima kasih Locialove atas kunjungan dan komentarnya. Kalo Locialove mau nyumbangin tulisan orisinalnya tentang Indonesia monggo lho…

  9. neli permalink
    April 23, 2012 11:35 am

    Sedih juga hati saya membaca beritanya.di mana rasa nasionalisme?
    Sepertinya semua sekarang sudah hampir punah. Semoga tumbuh kembali. Biar negeri ini sejahtera seperti negera Hong kong dimana hukum begitu adil, gak membedakan antara residen dan pendatang. Saya yg pengalaman di luar negeri sbg TKW Hong kong bertahun-tahun enak kerja di sana ingin pulang. Usaha di tanah air memang susah tapi apa perlu kita lari ke luar negeri selamanya? Rindu Indonesia yang damai, tertib, dan nyaman bagi semua.

  10. Agustus 4, 2012 11:35 am

    proud of you

  11. wong pribumi permalink
    Agustus 12, 2012 11:35 am

    APAPUN…inovatif-tehnologi produksi anak pribumi tidak mungkin dihargai oleh pemerintah. Contoh, di Jawa sdh ditemukan perahu tenaga gas tabung yg dpt tempuh jarak 300km/tabung kecil, Tahun 2000-an ada anak institut surabaya berhasil buat radar anti radar
    tapi s/d skrg ga ada kabarnya spy diproduksi masal yg dpt serap pengangguran di RI pdhl wajibnya pemerintah hargai ilmuwan-inovatif anak pribumi bukannya beli skala prosentase besar buatan luar, apa krn ga ada ‘jatah’ akhirnya produk kita tdk dihargai spt mobil esemka.

    Padahal anak pribumi sangat cerdas ukuran negara berkembang..lihat kita juara ompliade matemateka atau robot, dll.
    orang pribumi dpt buat herbal yg bisa sembuhkan aids atau hepatitis level e,f,g tapi para pejabat hasil pemilu justru milih obat kimia pdhl mahal.

    Akibat terlalu sibuk dg politik pribadi…entah, isu korup, pergantian kabinet dll maka wajar idealisme/patriot mulai luntur pada anak pribumi hal utk hargai ilmuwan-inovatif spy diproduksi massal yg dptcerdaskan+sejahterakan pribumi.

    Entah press media yg ikut memperkeruh suasana yg tidak mau tayangkan gratis pelayanan publik lintas progam antar departemen minimal 3jam/hari setiap tv/radio spt inovatf rekayasa pertanian-peternakan, kesehatan, pertahanan dll.

    Contoh…siapa yg mau kupas hal penjajahan modern secara halus kasus ketidakadilan freeport,,yg mana kita sbg pemilik tanah hanya dpt prosentase kecil jatah emasnya pdhl tempo waktu ekplor tsb sangat lama..maka wajar jika org pribumi di irian tsb..protes lalu demo lalu rusuh apalagi sempat ditunggangi opm lalu dicap memberontak utk buat opm lalu polisi tangkapi pribumi yg protes hal jatah ekonomi lalu freeport hanya duduk manis nunggu hasil kerja polisi yg dpt gaji dari pajak rakyat, setujukah anda?

    Sebelum jawab maka pikirkanlah efek mudhorot jika kasus tsb terus berlanjut.

  12. Bayu permalink
    Desember 29, 2012 11:35 am

    Indonesia Proud membanggakan… memberikan wawasan serta inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk lebih membuka mata.
    terima kasih INDONESIA PROUD.

  13. Januari 16, 2013 11:35 pm

    saya minta ijin untuk posting ulang beberapa artikel dari blog ini ke blog pribadi saya. thanks😀

    #ProudToBeIndonesian

  14. Februari 19, 2013 11:35 am

    terimakasih atas sumber blog ini menambah wawasan saya, dan membuka mata saya akan indonesia terutama jiwa nasionalisme saya terhadap indonesia.

  15. auliah permalink
    Juni 29, 2013 11:35 pm

    setelah baca wacana diatas, saya baru tahu dan sadar ternyata betul bahwa negara ini ad/ negara yg besar dgn SDA dan SDM nya yang melimpah tapi sayang tidak dikelola dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. apalagi membaca yg diatas bahwa para pelajar kita yg punya prestasi akademik hingga tingkat internasional bahkan disia-siakan dan lebih parahnya lagi ‘dipake’ oleh negara lain kemudian pd usia 50an mereka baru dikembalikan ke INDONESIA. Andaikan pemerintah jeli dalam hal ini mungkin kita akan menjadi negara yg disegani negara lain dan bahkan oleh negeri tirai bambu ataupun Amerika jika pemerintah kita serius dalam memperhatikan dan memudahkan kehidupan mereka jangan sampai mereka tlah memajukan negara lain sementara negara sendiri masih merangkak u/ maju lalu mata pemerintah baru terbuka dan memanggil kembali jenius2 hebat itu. dan faktanya mereka kembali ke tanah air bukan krn mereka dipanggil tp krn kecintaan akan merah putihlah yang melekat dlm sanubari mereka.

    *sungguh miris memang negeri ini……. Tapi, apalah daya mudah2an dibalik itu semua kita dpt menjadikan pelajaran/tolak ukur agar kedepannya kt mampu bangkit menjadi negeri yang makmur serta sejahtera seperti apa yg diamanatkan dalam UUD45.

    #https://indonesiaproud.wordpress.com# <<– keren banget nih blog sumpah!!! jgn bosan2 posting tentang Indonesia yah.😀

  16. Juli 26, 2013 11:35 pm

    semoga petinggi2 negara mem-bookmark dilaptop, komputer, hp mereka masing2.
    sehingga sedikit banyaknya, petinggi negara bisa mengetahui keadaan di negara yang mereka pimpin sekarang.
    tersadar dan berhenti bertindak aneh, karena melihat prestasi anak bangsa yg gak ada cape2nya buat ngasih prestasi ke negara yg dimana petingginya sendiri gak perduli🙂
    thanks om angka, semoga indonesiaproud bisa menjadi semangat buat masyarakat, khususnya generasi muda untuk tetap berjalan dengan menggendong bendera merah putih, walau terkadang saudara sendiri yg menjegalnya..

    • Juli 29, 2013 11:35 am

      Terima kasih Hikma atas kunjungan dan komentarnya. Semoga iProud bisa memberi semangat generasi muda utk terus berkarya dan berprestasi utk mengharumkan nama bangsa & negeri meski ada hambatan di sana-sini. Keep spirit high, terus bangun jiwa & badannya utk Indonesia Raya…

  17. Maret 18, 2014 11:35 pm

    Saya prihatin juga, untuk koreografer tari seluruh indonesia, bukankah tugas mereka untuk melestarikan kesenian tari indonesia, tapi lihatlah mereka sudah mati walaupun mereka masih bernyawa, memang hal yang tersulit dari perkembangan semua institusi kesenian bahwa akhirnya mereka kekurangan dana untuk tetap berdiri, padahal jika mereka teliti, mereka bisa merekomendasikan aktifitasnya kepada badan parawisata atau…lihatlah disetasiun tv swasta, terlihat mereka2 terlihat kesulitan “menciptakan” program2 acara tv yang notabenenya harus ada tayangan apapun yang bermaksud menghibur…ingat tiap detik mereka harus menayangkan acara, tidak harus menarik, lihatlah si olga yang kebanci bancian (banci rombeng masuk tv), walaupun tidak lucupun tetap bisa menjadi tayangan menarik dengan memaksakan tayangannya lewat episode waktu berjalan, kenapa para pemimpin sanggar tari ataupun para koreografer sudah mati walau belum berusaha, setahu saya, saya yang berusia 51 th, dan para ortu yang belum mati tentunya masih ingin mendapatkan kenangan masa muda di jaman pak harto, dimana pada masa itu, presidennya berusaha menampilkan kesenian tradisional dan saya suka…(koreografer…belum terpisah nyawa tapi sudah mati,dasar pengecut…..)

  18. Februari 28, 2015 11:35 pm

    Bapak suharto ini, seharusnya menjadi pelatih yah, atau asisten pelatih sehingga bisa mewariskan ilmunya pada atlet muda. Jadi regenerasi juara bisa dijaga. Hanya korupsi yang bisa menghalangi dari ketahanan suatu bangsa. semua lini mesti berbenah. Seharusnya kita kembali pada moto, hanya yang ahli yang seharusnya memimpin, bukan yang kuasa dan korup yang berkuasa.

    Wallahualam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: