Masyarakat Internasional Apresiasi Pengelolaan Bencana di Indonesia

2010 Februari 10

Badan PBB untuk Masalah Kemanusiaan (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs – UN OCHA), negara-negara donor, dan LSM (NGO) yang bergerak di bidang kemanusiaan mengakui Indonesia sebagai salah satu contoh negara yang telah memiliki sistem pengelolaan bencana yang sangat baik.

Pengakuan itu terungkap ketika UN OCHA menyelenggarakan pertemuan United Nations Disaster Assessment and Coordination Board, di Jenewa, ujar Sekretaris Pertama PTRI Jenewa, Achsanul Habib pada 10 Februari 2010.

Deputi Wakil Tetap RI untuk PBB, WTO, dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa, Duta Besar Desra Percaya yang mewakili Pemerintah Indonesia, diminta untuk menyampaikan paparan mengenai contoh keberhasilan penanganan pasca gempa di Padang, Sumatra Barat.

UN OCHA menyebutkan bahwa keterwakilan Indonesia dalam pertemuan tersebut dimaksudkan sebagai contoh sukses sebuah negara yang berhasil dalam operasi kemanusiaan PBB, khususnya dalam penanganan bencana.

Dalam paparannya, Duta Besar Desra Percaya menggarisbawahi bahwa Pemerintah Indonesia telah menerapkan manajemen penanganan bencana di Padang melalui koordinasi erat dengan badan-badan PBB dan negara-negara sahabat. Penanganan gempa di Padang berjalan dengan baik karena didukung oleh koordinasi yang sangat baik antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta UN-OCHA dan tim gerak cepatnya.

Penanganan gempa di Padang juga telah menjadi contoh yang baik dengan berubahnya pendekatan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam penanganan bencana. Dalam kerangka ini, Pemerintah Indonesia menempatkan pendekatan yang lebih proaktif dan bukan reaktif, dengan penekanan pada upaya mengurangi risiko bencana, serta menempatkan masyarakat sebagai aktor penting dalam pengurangan resiko bencana (community-based approach).

Hal-hal tersebut telah menjadi sejumlah catatan penting bagi para peserta pertemuan yang terdiri dari para pejabat UN OCHA, badan-badan PBB dan para negara donor penting seperti AS, Uni Eropa, Jepang, Australia, Kanada, serta sejumlah LSM di bidang kemanusiaan.

Dubes Toni Frisch, yang mewakili Badan Bantuan Kemanusiaan Pemerintah Swiss menyebutkan Indonesia merupakan negara yang sangat mandiri dan memiliki kemampuan manajemen pengelolaan bencana memadai serta didukung oleh sumber daya yang sangat kuat. Hal-hal inilah yang menjadi perbedaan nyata antara Indonesia dengan negara-negara lain yang memiliki karakteristik sama dalam hal bencana, ujar Toni Frisch yang berhasil menarik pelajaran penting yang dialaminya selama operasi bantuan kemanusiaan di Padang.

Pada akhir pertemuan, seluruh peserta mengakui bahwa aspek kemitraan dan kerja sama internasional adalah salah satu kunci utama dalam penanganan bencana.  Hal ini merupakan elemen yang sama pentingnya dengan peningkatan kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam memandang dan mengelola bencana, demikian Achsanul Habib.

Sumber: Antara

LIPI Membuat O-Water (Unit Penghasil Air Berozon)

2010 Februari 9

Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi (P2KIM) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan O-Water, yaitu suatu alat/unit kompak penghasil atau pembuat air berozon. Dengan menggunakan teknologi plasma dan metode pelarutan langsung, O-Water akan menambah kadar oksigen dalam air sehingga lebih segar dan sehat. Dengan metode ini pemanfaatan ozon menjadi lebih mudah dan efektif dalam berbagai bidang aplikasi proteksi lingkungan.

Dr. Anto Tri Sugiarto, M.Eng, Peneliti di P2KIM LIPI menjelaskan prinsip O-Water adalah membuat senyawa plasma yang bisa mengubah oksigen menjadi ozon. Kata ‘Ozon’ sudah tidak asing lagi bagi kita. Ozon adalah radikal bebas yang menangkap polutan, yang terbentuk dari sinar matahari yang terurai. Ozon adalah gas yang tidak berbau dan tidak berwarna. Ozon dapat pula dipergunakan untuk meperlancar jalannya aliran darah dalam tubuh, karena Ozon lebih cepat masuk ke dalam darah pada dosis tepat.

O-Water ciptaan LIPI ini, menurut Anto, reaktornya berbahan baku air. Namun menciptakan proses plasma di dalam air cukup sulit. Setelah mencoba menggunakan berbagai medium, Anto akhirnya menggunakan tabung kaca (pyrex). Hasilnya, terjadi banyak loncatan elektron. Reaktor versi Anto ini berupa kotak berukuran panjang-lebar-tinggi 40 x 30 x 10 cm. Di dalam reaktor terdapat silinder yang berisi tabung kaca berdiameter 3 cm. Pada tabung kaca itu dipasang dua kutub elektroda. Satu kutub diletakkan di dalam, kutub lainnya dililitkan sepanjang tabung. Pada silinder tadi terdapat tiga lubang yang berfungsi memasukkan oksigen dan air, serta saluran keluar untuk air berozon. Setelah air dan oksigen dimasukkan,kemudian listrik dinyalakan, sehingga kedua elektroda itu beraksi dan menimbulkan lompatan muatan elektron seperti petir yang bercabang-cabang sepanjang tabung.

Anto menjelaskan, komponen-komponen utama alat pembuat air berozon disederhanakan menjadi satu sistem terpadu, tanpa pipa penghubung, dengan membuat pipa gas dan pipa air pada satu poros untuk menghasilkan air berozon dengan konsentrasi tinggi. Penggunaan O-Water di rumah tangga sangat mudah. Cukup dengan memasang selang ke kran air, air tersebut sudah berozon. Manfaatnya antara lain untuk sterilisasi (yaitu sterilisasi sayuran, buah-buahan, daging. Untuk mencuci peralatan medis, dan di industri digunakan untuk menghilangkan limbah dan untuk pemutih kertas).

O-Water belum banyak di pasaran. O-Water buatan LIPI ini seharga Rp 1 juta per unit. Keuntungan yang diperoleh antara lain dapat membunuh virus, bakteri, dan jamur. Menghilangkan pengaruh pestisida, logam berat, dan kaporit. Menjadikan buah-buahan dan sayuran lebih segar dan tahan lama. Cth Tomat tahan hingga 27 hari. Tidak merusak kadar air, kadar gula, Vitamin C pada buah segar, dan tidak rusak/busuk. Buah atau sayuran yang disemprot dengan air berozon aman dikonsumsi, kata Anto. Ozon adalah zat yang sangat aktif dan cepat terurai kembali menjadi oksigen dalam waktu satu jam dan tidak meninggalkan sisa.

O-Water telah dipatenkan. Ke depan, Anto berharap, air ozon dapat segera diproduksi secara massal agar sayur-mayur petani Indonesia lebih segar dan awet. Meski demikian, tidak dianjurkan meminum air ozon. Perlu diperhatikan apabila mencium bau ozon yang menyengat, berarti ada kebocoran, jadi jangan digunakan. Di sisi lain, ozon merupakan gas beracun yang sangat berbahaya. Ozon merupakan zat yang mudah bereaksi dengan molekul lain disekitarnya. Ozon di udara dalam konsentrasi sekitar 1 ppm (satu dalam satu juta) dapat mengakibatkan orang sulit untuk bernapas, dan pada kandungan di atas 50 ppm, ozon akan dapat membawa kita pada kematian.

Sumber: Ristek

Peneliti Jepang Studi Banding Penerapan SRI Organik di Sukabumi

2010 Februari 9

Dua peneliti dari lembaga yang berbeda di Jepang, yakni SVRK Prabhakar dan Daisuke Sano, studi banding ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mekar Tani yang mengembangkan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik dalam pertaniannya di Kampung Kebon Pedes Desa Jambe Nenggang Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 8 Februari 2010.

Kedua peneliti, SVRK Prabhakar adalah policy recearcher climate policy project dari Institue for Global Environmental Strategies (IGES) sedangkan Daisuke Sano adalah expert (agriculture sector) Japan International Cooperation Agency (JICA) Change Advisory and Monitoring Mission in Indonesia.

Kedatangan dua peneliti itu menyusul adanya hasil penelitian Prof Dr Iswandi Anas, Guru Besar Biologi Tanah, Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang peningkatan produksi padi nasional dan pengurangan emisi gas metan dari sawah melalui penerapan teknologi SRI organik.

SVRK Prabhakar mengatakan, pihaknya datang ke Indonesia, salah satunya Kabupaten Sukabumi untuk melihat langsung petani yang menggunakan metode SRI organik di persawahannya karena hasil penelitian, penerapan metode SRI tersebut dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang salah satu sebagai pemicu terjadinya pemanasan global (global warming).

“Saya juga ingin mengetahui keuntungan bagi para petani yang menerapkan metode SRI organik,” katanya yang merupakan warga asli India. Hasil dari kajian di Kabupaten Sukabumi, kata dia, akan dikembangkan di sejumlah negara seperti di Filipina, Manila dan India.

Guru Besar Biologi Tanah IPB, Prof. Dr. Iswandi Anas menjelaskan penerapan metode SRI dapat meningkatkan produksi padi secara nasional dan menguntungkan para petaninya.

“Penggunaan metode SRI dapat mengurangi emisi gas metan sebagai salah satu penyumbang pemanasan global. Penerapan metode SRI ini tidak hanya organik saja, tetapi bisa juga an organik dan gabungan organik dan an organik,” katanya.

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian ketiganya, baik organik, an organik maupun gabungannya dapat mengurangi sekitar 50 persen emisi gas metan.

Ketua Gapoktan Mekar Tani, Ujang Zaenal Mutaqin, mengatakan, penerapan metode SRI organik sangat menguntungkan bagi petani, antara lain, peningkatan produksi hasil pertanian padi, pengurangan pupuk dan pengurangan penggunaan pestisida.

“Dalam satu hektare dapat menghasilkan 6 hingga 10 ton gabah kering pungut (GKP), sedangkan dengan metode pertanian konvensional, hanya menghasilkan 4 hingga 6 ton per hektare,” katanya yang telah menerapkan metode SRI sejak tahun 2007 lalu.

Selain itu, penggunaan air dalam penerapan metode SRI ini sangat efisien karena sawah tidak langsung digenangi oleh air seperti di sawah-sawah yang masih konvensional, tetapi menggunakan air hanya di saluran air yang dibuatkan di pinggir-pinggir petakan sawah dengan aliran yang kecil.

“Ini sangat cocok bila musim kemarau, karena penggunaan air hanya sekitar 60 persen dibanding metode konvensional,” ujarnya seraya menambahkan penggunaan SRI organik ramah terhadap lingkungan.

Sumber: Antara

Praptowiyono: Seniman Belangkon Mataraman, Yogyakarta

2010 Februari 9

Praptowiyono,  setelah menjadi perajin belangkon selama lebih dari 53 tahun, meyakini satu hal, yaitu Belangkon Mataraman akan terus lestari selama Raja dan Ratu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tetap tegak berdiri melindungi kawulanya.

Keyakinan itu muncul karena saat ini pemakai belangkon adalah para kerabat dan abdi dalem keraton. Adapun masyarakat awam memakai belangkon hanya pada kegiatan tertentu, seperti pesta perkawinan tradisional dan upacara adat. Selebihnya pemakai belangkon hanya dijumpai dalam pementasan ketoprak.

”Selama masih ada Ratu dan sering ada pisowanan, belangkon akan tetap hidup,” katanya saat ditemui di rumahnya, Dusun Pronosutan, Desa Kembang, Nanggulan, Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Prapto memang perlu meyakinkan dirinya sendiri akan masa depan belangkon. Puluhan tahun menggeluti dunia belangkon membuatnya merasakan masa jaya sekaligus masa surut kerajinan tersebut. Muncul kekhawatiran bahwa belangkon akan punah.

Selama lebih dari 30 tahun terakhir ia hidup di tengah pudarnya pamor belangkon. Keyakinan akan masa depan belangkon membuat dia bisa bertahan. Namun, ia tak lagi ngoyo memproduksi belangkon seperti pada awal tahun 1960-an ketika belangkon masih menjadi penutup kepala utama yang dipakai masyarakat Yogyakarta.

Ia memilih memperlakukan belangkon sebagai barang seni sehingga harus dibuat dengan mengutamakan rasa dan kesungguhan. Pilihan itu jugalah yang mendorong dia menolak pesanan membuat belangkon bergaya surakarta. ”Saya tahunya belangkon mataraman. Kalau diminta gaya surakarta, nanti malah salah,” ujarnya.

Duduk beralaskan bantal kumal di depan pintu samping rumahnya, ia tekun menghadap sejumlah plonco dolo yang berfungsi sebagai media pencetak belangkon. Di sekitarnya tampak guntingan kain, benang, palu, serta peralatan jahit lainnya. ”Duit ya penting. Tapi kalau ngejar duit, nanti hasilnya tidak memuaskan. Saya butuhnya marem (puas), bukan sugih (kaya),” tambahnya.

Pilihan itu membuat dia dikenal sebagai pembuat belangkon mataraman yang ulung. Belangkon buatannya dinilai lebih rapi dan pas di kepala. Tak hanya itu, ia juga bisa membuat belangkon sesuai permintaan pemesan.

Mereka yang berminat mendapat belangkon buatannya harus memesan jauh-jauh hari. Peminatnya berasal dari berbagai kota di Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya hingga Jakarta. Sejumlah kerabat Keraton Yogyakarta juga pernah memesan belangkon kepadanya melalui seorang utusan.

Belangkon-belangkon buatannya pernah dipakai dalam acara Ketoprak Humor di salah satu stasiun televisi nasional beberapa waktu lalu, serta acara Pangkur Jenggleng di stasiun televisi lokal. Para seniman juga sering memesan belangkon kepadanya untuk dibawa ke luar negeri.
read more…

I Wayan Suweta & Emy: Pelestari Gerabah Binoh Kaja

2010 Februari 9
oleh indonesiaproud

Pada pertengahan Januari lalu, belasan wisatawan asal Belanda berkeliling Banjar Binoh Kaja, Denpasar, Bali. Mereka bernostalgia melihat kerajinan gerabah tradisional yang masih tersisa dan dipertahankan oleh Pemerintah Kota Denpasar serta menjadi agenda wisata. Kerajinan itu unik karena melibatkan para perempuan berusia lanjut alias lansia.

Kerajinan itu sebenarnya sudah menjadi kisah masa lalu ketika terancam punah tahun 1992. Namun, ternyata, kerajinan tersebut hingga kini tetap bertahan dan itu semua berkat kehadiran I Wayan Suweta dan Emy yang dengan segala cara berjuang agar kerajinan gerabah di Banjar Binoh Kaja tersebut tetap lestari.

Salah satu perajinnya adalah ibu kandung Suweta sendiri. Suweta terketuk hatinya ketika melihat ibunya mendapatkan penggantian dari pengepul yang tak sebanding dengan sebuah pot berukuran besar. ”Para perajin ini tidak pernah mendapatkan uang. Mereka hanya dihargai dengan penggantian barang yang tidak sebanding dengan jerih payah membuat gerabah,” tutur Suweta. Biasanya mereka mendapat pengganti beras dari hasil kerajinannya.

Suweta yang hanya lulusan sekolah teknik mesin (STM) itu pun mulai berupaya dengan menerima penitipan gerabah dari ibu dan teman ibunya. Beberapa buah hasil karya perempuan lansia itu lalu dipajangnya bersanding dengan bengkel motornya.

Menurut Suweta, sejak adanya kerajinan gerabah di banjar itu puluhan tahun lalu, tidak pernah ada galeri atau toko pemajang karya perajin. Semua hasil kerajinan diberikan kepada para pengepul. Karena itu, ia pun tertarik memajangnya di dekat bengkel depan rumahnya. Ia tak menyangka hal tersebut menarik perhatian pengguna jalan yang lewat.

Cerita kehidupan kemudian mulai bergulir. ”Satu-dua pot gerabah terjual. Saya jadi semangat memajangnya. Ibu saya juga senang,” kisah bapak dua anak ini.

Gayung bersambut. Memasuki tahun 1997, Suweta ditawari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar untuk mengelola kelompok perajin gerabah ini. Alasan pemkot, kerajinan gerabah ini menjadi salah satu andalan industri yang dipertahankan sekaligus menjadi tujuan pariwisata di tengah kota.

Awalnya Suweta ragu. Namun, bersama sang istri, Emy, ia menerima tawaran dari Pemkot Denpasar itu. Emy mengaku sempat kesulitan merayu para perempuan lansia itu untuk berkarya meski hanya sebagai pekerjaan sambilan.

”Kami berupaya terus mengatur mereka, khususnya dalam penggunaan uang. Sebelumnya mereka terbiasa dengan barter barang,” kata Emy. Apalagi proses barter seperti itu sudah berlangsung lama sehingga sudah menjadi kebiasaan.

Saat itu, Suweta dan Emy mengupayakan uang sekitar Rp 1,5 juta untuk modal kelangsungan kelompok perajin gerabah ini. Uang itu terutama digunakan untuk membeli bahan baku tanah liat yang pada saat itu satu truk seharga Rp 350.000 untuk dibagi kepada anggota kelompok. Sekarang omzet kerajinan mereka sudah mencapai puluhan juta rupiah. Seorang perajin rata-rata mengantongi penghasilan sekitar Rp 700.000 per bulan.

Bagi Emy atau Suweta, mengelola kerajinan kelompok lansia yang anggotanya 27 orang dengan usia lebih dari 45 tahun itu merupakan kepuasan tersendiri. ”Kami bangga mampu memotivasi mereka untuk tetap eksis dan lestari,” kata Suweta yang ditimpali senyum sang istri.

Selain menghidupkan kelompok, tebersit pula keinginan untuk membantu finansial keseharian para perempuan lansia ini dengan membentuk koperasi. Maka, sekitar setahun kemudian Suweta dan istrinya membentuk koperasi simpan pinjam bernama Emyta (Ekonomi Masyarakat yang Tangguh Abadi). ”Banyak orang mengira ini singkatan dari nama kami berdua. Padahal, ini hanya kebetulan saja,” ujarnya.

Kelangsungan koperasi ataupun kelompok semakin maju dan mendapat kepercayaan dari beberapa instansi berupa kucuran dana hingga bantuan alat tungku pembakaran. Pertama kali mendapatkan pinjaman sekitar Rp 5 juta dari beberapa instansi, baik pemerintah maupun swasta.

Sejumlah pelatihan juga diikuti Suweta dan Emy. ”Ini semua demi kemajuan kelompok. Ya, kami pun tak bisa berharap banyak dari anak mudanya. Anak muda di sini, hari ini mau, besok sudah malas lagi. Kami tidak bisa memaksa. Karena niat kami tulus untuk kelestarian gerabah asli buatan perajin lansia Denpasar,” papar Suweta.

Pasangan suami istri ini cepat-cepat menyanggah jika dikatakan gerabah itu dibeli karena belas kasihan mengingat pembuatnya adalah perempuan lanjut usia. Itu pendapat salah!

Suweta menjelaskan, gerabah Binoh Kaja ini berbeda dengan gerabah yang ada di tempat lain di Denpasar atau daerah lain. Menurut dia, Binoh Kaja menjadi sentra perajin gerabah Denpasar karena memang daerah itulah pelopornya. Kualitasnya pun lain, demikian pula proses pembuatannya.

”Pembuatannya murni menggunakan tenaga para lansia ini, tanpa bantuan alat putar,” ujar Suweta. Cara itu menghasilkan gerabah yang relatif tebal dan kuat dibandingkan dengan yang dibuat dengan alat pemutar yang menghasilkan gerabah lebih tipis. Pembakarannya pun dari bawah dan benar-benar diperhatikan tingkat kematangannya agar tak gampang pecah.

Kelemahannya, penyelesaian gerabah butuh waktu lebih lama sehingga sulit memenuhi order dalam jumlah besar. Maklum, para perempuan ini tidak 100 persen fokus pada pembuatan gerabah, mengingat kegiatan itu awalnya hanya sebagai pengisi waktu luang di usia senja.

Keahlian para perajin terus bertambah dari hanya gerabah berukuran pot besar tanpa hiasan atau polosan seharga sekitar Rp 30.000 meningkat dengan tambahan gambar atau hiasan di sekitar pot agar tidak tampak polos. Sekarang order banyak datang dari kalangan pengusaha spa.

Pasangan Suweta-Emy bertekad akan terus berupaya melestarikan usaha kerajinan itu. Jika suatu saat jumlah perempuan lanjut usia ini berkurang, mereka akan menempuh jalan apa pun, termasuk menerima perajin dari luar Binoh Kaja, jika terpaksa.

”Kami tetap mengedepankan kelestarian Binoh Kaja sebagai sentra gerabah pertama di Denpasar, apa pun yang terjadi,” ujar Suweta dan Emy.

Sumber: Ayu Sulistyowati, Kompas

Angklung, Gamelan dan Wayang Dipamerkan di Museum Pardubice, Ceko

2010 Februari 9

Alat musik angklung dan seperangkat musik gamelan dilengkapi wayang kulit, dipajang dalam pameran alat musik tradisional di museum kota Pardubice, Ceko, sejak 4 Februari hingga 18 April 2010.

Pameran yang dibuka Direktur Museum Jitka Rychlikova itu, dimeriahkan dengan penampilan kesenian berupa tari Dayak yang dibawakan mahasiswa Indonesia di Ceko, ujar Counsellor Pensosbudpar KBRI Praha Republik Ceko, Azis Nurwahyudi.

Alat musik tradisional dari Indonesia ditempatkan secara khusus di paviliun museum yang merupakan bagian dari Istana Pardubice, yang dibangun pada abad ke-13 oleh dinasti Pernstejn.

Azis Nurwahyudi mewakili Duta Besar Salim Said, dalam kesempatan tersebut menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kerja sama yang terjalin selama ini dengan Kota Pardubice. Dikatakannya, KBRI Praha menyambut tawaran untuk melakukan pameran budaya Indonesia di Istana Pardubice pada tahun ini.

Banyaknya kegiatan kebudayaan dari Indonesia di kota tersebut diharapkan semakin mendekatkan hubungan antara Indonesia dengan masyarakat kota di wilayah Bohemia yang berpenduduk 100 ribu jiwa tersebut.

Kain tenun Lombok dan ulos Sumatra juga turut dipamerkan di paviliun Indonesia untuk menambah daya tarik bagi pengunjung, selain brosur pariwisata dalam bahasa Ceko yang dibagikan kepada pengunjung.

Pameran alat musik tradisional yang diselenggarakan setiap dua tahun tersebut selain memamerkan angklung dan gamelan dari Indonesia, juga aneka alat musik tradisional dari China, India, Afrika, Amerika dan Arab.

Sumber: Kompas

Energi Hidrokinetik dari Selat Lombok

2010 Februari 9

Indonesia, sebagai negara yang memiliki belasan ribu pulau, mempunyai energi yang bersumber dari gelombang dan arus laut yang besar. Salah satu yang dapat dikembangkan pemanfaatannya adalah gaya kinetik dari arus laut yang berada di selat. Daerah yang memiliki potensi besar hidrokinetik untuk pembangkit listrik adalah Selat Sunda, Selat Bali, dan Selat Lombok.

BJ Habibie, mantan Presiden RI yang juga bekas Menteri Negara Riset dan Teknologi memaparkan pemikirannya itu sebagai pembicara kunci pada acara tentang energi terbarukan untuk masa depan yang diselenggarakan Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang lingkungan dan energi terbarukan termasuk nuklir, di Jakarta. LSM itu adalah Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), Institut Energi Nuklir (IEN), dan Women in Nuclear (WIN) Indonesia.

Menurut pakar teknologi penerbangan ini, gaya kinetik di daerah selat tersebut memang tinggi karena menghimpun tekanan arus dari laut lepas. Selat Sunda mendapat pasokan arus dari Laut China Selatan. Sedangkan Selat Bali dan Lombok mendapat aliran  arus laut Samudera Pasifik yang melalui Selat Makasar. “Di Selat Lombok itulah tercatat arusnya yang terkuat di Indonesia,” ujar Habibie.

Melihat lokasi selat itu berada di dekat Jawa dan Bali, maka menurutnya sumber energi terbarukan ini berpotensi untuk memenuhi kebutuhan daya listrik di interkoneksi Jamali (Jawa Madura Bali) pada masa depan.

Daya kinetik arus laut di Selat Lombok ini dapat difungsikan untuk memompa air naik ke tebing pantai di Bali Timur. Selanjutnya air laut itu digunakan untuk menggerakkan turbin di waduk buatan yang dapat dibangun di daerah itu. “Pengelolaan potensi arus laut ini sebagai pembangkit dapat ditawarkan ke pihak swasta seperti halnya ladang minyak di lepas pantai,” lanjutnya.

Masih mahal

Menanggapi pemikiran Habibie, Direktur Pengembangan Sumberdaya Energi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Unggul Priyanto yang juga Masyarakat Energi Indonesia, Jumat (5/2/2010) mengatakan, potensi energi dari laut itu telah dikaji BPPT. Hasilnya, belum layak sebagai pembangkit karena investasinya mahal. “Sampai sekarang hidrokinetik di dunia masih dalam taraf riset, belum ada yang komesial karena biaya produksi listrik yang dihasilkan per kWh masih sangat mahal,” katanya.

Sementera itu pemanfaatan gelombang laut di pesisir Lombok, jelas Agus Rusyana Hoetman, Asisten Deputi bidang perkembangn Rekayasa, Kementerian Riset dan Teknologi sebenarnya sudah diteliti untuk pemanfaatannya dalam skala kecil oleh tim peneliti dari Universitas Mataram yang dipimpin oleh I Made Adi Sayogya. Energi arus laut dikonversikan menjadi energi mekanis untuk menggerakkan pompa air untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertanian dan air bersih di  pesisir.

Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Lombok, Universitas Mataram juga mengembangkan sistem pembangkit listrik Mikro Hidro semi terapung tipe terowongan, untuk membantu masyarakat di pinggir sungai memperoleh listrik murah yang ramah lingkungan. Pada sungai sedalam 2 meter dan lebar 2,75 meter serta berkecepatan aliran 2,45 meter/detik dapat membangkitkan listrik dengan daya hidrokinetik sebesar 3.371 Watt.

Sumber: Kompas

PT Bumi Resources Terima Penghargaan Platts Top 250 Global Energy Companies Awards 2009

2010 Februari 7

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merupakan satu-satunya perusahaan nasional yang mendapatkan penghargaan dari Platts Top 250 Global Energy Company 2009. BUMI memperoleh peringkat ke-3 dalam kategori Fastest Growing Energy Company di Asia, sekaligus memperoleh peringkat ke-29 dalam Top 50 Fastest Growing Companies dan peringkat ke-146 dalam Overall Global Performance.

Dalam sektor Coal & Consumable Fuels, PT Bumi Resources Tbk. memperoleh masing-masing peringkat ke-4 dan ke-6 di Asia dan dunia. Seluruh penghargaan tersebut dalam waktu yang bersamaan diterima oleh Dileep Srivastava, Senior Vice President Investor Relations – Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk. di Singapura.

Sejak tahun 2000, Platts telah melakukan pemeringkatan atas performa keuangan perusahaan-perusahaan energi, dalam skala global, regional, dan berdasarkan sektor industri. Platts juga melakukan analisis terhadap perusahaan energi berdasarkan sembilan klasifikasi industri dan tiga wilayah global.

Selain itu, selama 2009, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mendapatkan dua penghargaan Good Corporate Governance (GCG), sebagai Trusted Company berdasarkan penilaian Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2009 untuk penghargaan The Most Trusted Companies oleh Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) bekerja sama dengan majalah SWA.

Sebelumnya, BUMI mendapatkan penghargaan Best GCG Non Financial Category 2009 dari Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) dan Center for International Private Enterprise Washington DC (CIPE). Penilaian dilakukan berdasarkan evaluasi prinsip GCG dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Penghargaan tersebut membuktikan governance BUMI dilakukan sesuai prinsip global GCG secara integral dalam filosofi manajemen di seluruh perusahaan.

Sumber: Kompas

Ika Hartika Ismet: Profesor Riset Sel Surya

2010 Februari 7
oleh indonesiaproud

Saya tua di laboratorium. Tetapi, tetap saja sampai sekarang belum berdiri industri sel surya,” kata Ika Hartika Ismet di Bandung, Jawa Barat. Kalimat yang diucapkannya bukan ungkapan kekesalan, melainkan kesetiaan. Sudah 30 tahun Hartika berkecimpung dalam kegiatan riset produksi sel surya. Ia sedang meriset proyek percontohan pabrikasi sel surya skala 2 juta wattpeak di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bandung.

Jauh hari sebelumnya, ia sudah menguasai teknik produksi sel surya. Tetapi, industri yang dinanti tak kunjung datang. Pemerintah pun bergeming, diam seribu bahasa.

Pada masa Orde Baru sebenarnya Hartika memperoleh anugerah Satyalancana Pembangunan dari Presiden Soeharto (1997). Penghargaan itu dia dapatkan atas perannya dalam Lapangan Pembangunan Bidang Industri Strategis: Proses dan Produksi Komponen Sel Surya, Listrik Tenaga Surya untuk Sejuta Rumah.

Bagi Hartika, saat itu ada secercah harapan akan segera muncul industri sel surya di dalam negeri. Didorong pula peristiwa tahun sebelumnya, 1996, Istana Negara meminta 50 panel sel surya untuk solar home system yang dirancang Hartika di PT LEN Industri (Persero) Bandung.

Pembuatannya masih dengan metode screen printing, yaitu metode yang tergolong awal untuk proses produksi sel surya. Metode ini sekarang relatif sudah tertinggal. Inovasi yang berkembang menjadi metode spray phosphor, kemudian metode disposisi SiNx yang semakin efisien.

Ketika itu, Soeharto meminta dan memberikan 50 panel sel surya itu untuk pertukaran cendera mata dengan Pemerintah Malaysia. Pemerintah Malaysia datang dan menyampaikan tiga mobil Proton Saga, mobil nasional kebanggaan negeri jiran itu. Dari Indonesia, dipilih penukar ciedera mata berupa sel surya hasil pengembangan riset Hartika. Ini untuk mengimbangi Malaysia. Soeharto ingin menunjukkan Indonesia tak kalah maju di bidang teknologi.

Malaysia boleh unjuk gigi, mampu membikin mobil sendiri. Indonesia tidak mau kalah dengan menunjukkan teknologi sel surya ”bikinan sendiri”.
read more…

Jamila dan Sang Presiden Menang di Festival International des Cinemas d’Asie de Vesoul, Perancis

2010 Februari 5

Kembali film Jamila dan Sang Presiden yang ditulis dan disutradarai aktivis Ratna Sarumpaet memenangkan festival film. Kali ini menang di Festival International des Cinemas d’Asie de Vesoul, Perancis yang diselenggarakan pada 26 Januari – 2 Februari 2010. Jamila dan Sang Presiden menyabet dua kategori kompetisi yakni “Prix de Public” dan “Prix Jury Lyceen” pada festival yang berlangsung di Kota Vesoul, Perancis, ujar Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Paris Gita L. Murti.

Gita L. Murti mengatakan, film itu juga berhasil menarik perhatian “Art et Essai”, jaringan bioskop di Perancis yang khusus menayangkan film-film independen. Menurut Gita, “Art et Essai” menyatakan akan menayangkan film Jamila dan Sang Presiden di seluruh bioskopnya di Perancis.

Ratna Sarumpaet menyatakan sangat puas dengan hasil yang dicapai Jamila dan Sang Presiden yang pembuatannya menelan biaya enam milyar rupiah. Ratna menyatakan, tidak optimistis biaya pembuatan film akan kembali namun berharap peredaran film di Taiwan dan Perancis akan dapat mendongkrak rating Jamila dan Sang Presiden serta berpeluang diedarkan di negara-negara lain.

Festival Film Asia di Vesoul merupakan kegiatan internasional yang diadakan setiap tahun di kota tersebut. Penyelenggaraan pada tahun ini merupakan yang ke-16 kalinya dengan jumlah penonton yang mencapai 26.000 orang. Selain Indonesia, festival ini juga diikuti peserta dari China, India, Korea, Turki, Iran, Taiwan, Filipina dan Jepang.

Film-film yang menang dalam festival ini akan kembali dipertunjukkan untuk publik Perancis pada “Musee Guimet of Asian Arts” di Paris pada tanggal 7 hingga 9 April 2010.

Sumber: Antara, FICA (Festival International des Cinemas d’Asie de Vesoul)