Kendaraan tempur sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan operasional militer. Salah satunya adalah Kendaraan Tempur Bawah Air (KTBA) Kopaska Angkatan Laut, yang sering digunakan dalam tugasnya melaksanakan sabotase bawah air terhadap instalasi musuh. Dengan KTBA buatan Satuan Komando Pasukan Katak Koarmatim ini, maka personil pasukan katak bergerak secara senyap, mudah, dan cepat menuju sasaran untuk menghancurkan instalasi tersebut.
KTBA adalah hasil inovasi kreatif dan konstruktif serta kerja keras Satuan Komando Pasukan Katak Koarmatim. KTBA merupakan ide dan hasil karya Komandan Satpaska Koarmatim Letkol Laut (E) M Faisal. Dalam operasionalnya, KTBA berfungsi untuk meminimalkan faktor kesulitan yang tinggi yang diemban personil Kopaska saat menyelam dan berenang dengan jarak jauh menyusup ke daerah lawan dengan beban peralatan tempur yang cukup berat.
KTBA yang panjangnya sekitar 200 meter dan bobot 400 kilogram itu dilengkapi mesin pendorong Driver Propoltion Vehicle. Mesin ini biasa digunakan Kopaska, antara lain, sebagai alat pendorong waktu menyelam. Bentuknya memang mirip ikan hiu agar gerakannya lebih lincah. Meski demikian, alat itu dapat digunakan di atas permukaan air dengan kecepatan tiga knot per jam dan juga bisa melaju di bawah permukaan dengan kecepatan empat knot per jam.
Untuk menjaga kerahasiaan, KTBA dilengkapi peralatan selam closed circuit sehingga tidak mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Selain itu, KTBA dibuat dari bahan fiber glass sehingga sulit terdeteksi oleh sonar yang digunakan kapal perang.

KTBA versi awal
Komandan Kopaska Letkol Laut (E) M. Faisal yang menciptakan kendaraan aneh itu bersama lima orang anak buahnya mengaku awalnya hanya coba-coba. Dia mengkombinasikan teknologi kapal selam dengan ilmu penyelaman yang telah dia kuasai. Bahannya pun dari barang bekas, yaitu DPV yang sudah tidak digunakan lagi oleh Kopaska.
Kelebihan KTBA ala Kopaska selain mampu menyusup pantai musuh di kedalaman yang dangkal juga mampu mengangkut personel serta bahan peledak yang cukup banyak. “Awalnya memang hanya coba-coba. Saya desain saat saya masih di Kopaska Koarmabar di Jakarta dan baru bisa diteruskan setelah menjadi komandan Kopaska Armatim,” kata alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) 1987 angkatan 32 tersebut.
Menurut ayah dua anak kelahiran Palembang yang suka utak-atik peralatan elektronik itu, uji coba KTBA tersebut ternyata mendapat perhatian KSAL. ”Sejak dibuat enam bulan lalu, Kopaska saat ini mempunyai tujuh unit.” Dia mengakui, karya ciptaannya awalnya hanya diuji coba di kolam renang. Dari hasil uji coba, alat tersebut ternyata bisa digunakan untuk menyelam. Besar volume kantong udara depan dan belakang dibuat sesuai dengan volume udara di pelampung sehingga kendaraan itu bisa diparkir di dasar laut.
Indonesian Sea Radar (ISRA) adalah radar pengawas pertama milik Indonesia hasil ciptaan para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ini merupakan radar yang dapat digunakan untuk membantu pengaturan transportasi laut dan udara, pengamatan cuaca, pemetaan wilayah, serta navigasi.
“Selain itu dapat digunakan untuk aplikasi pertahanan keamanan (militer) seperti pemandu rudal dan pengunci sasaran,” ucap Kepala LIPI Prof. dr. Umar Anggara Jenie saat peluncuran radar tersebut yang merupakan bagian dari peringatan hari ulang tahun LIPI ke-42 di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI Subang, Jawa Barat, 20 Agustus 2009.
Prof. Umar mengatakan, radar ISRA merupakan bukti bahwa tenaga ahli dalam negeri mampu membuat peralatan dengan teknologi tinggi. “Ini mendukung kemandirian membuat alat-alat strategis. Belum lagi prosedur pembelian radar luar negeri sulit dan harganya mahal,” jelasnya.
Kepala Bidang Elektronik dan Telekomunikasi LIPI, dr. Mashury Wahab mengatakan, penelitian untuk membuat radar tersebut dilakukan selama 3 tahun oleh satu tim berjumlah 20 orang dengan memakan biaya sekitar Rp 3 milyar. Sebelumnya, para peneliti diberikan bantuan oleh pemerintah Belanda untuk pelatihan dasar di Delft University of Technologi the Netherlands yang kemudian diaplikasikan dan dikembangkan di Indonesia.
Radar dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter, berat sekitar 200 kg, serta jangkauan deteksi hingga 64 km tersebut, paparnya, telah menggunakan teknologi Frequency-Modulated Continuous (FM-CW) yang konsumsi daya listrik lebih rendah dan ukuran radar lebih kecil dibanding radar yang digunakan di Indonesia.
“Radar yang digunakan instansi-instansi pemerintah teknologinya ketinggalan, daya (listrik) dan ukurannya juga besar. Kalau radar ISRA biaya operasional dan perawatannya jauh lebih rendah,” ujar Mashury.
Uji coba radar sudah dilakukan di Cilegon dengan mendeteksi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda. Menurutnya, produksi masal untuk radar tersebut diharapkan dapat dilakukan pada 2011 setelah melalui proses penyempurnaan.
“Tahap selanjutnya pada akhir tahun ini, kita akan buat radar mobile yang bisa dibawa kemana-mana. Tahap terakhir tahun 2011 kita akan buat jaringan dengan beberapa radar yang terkoneksi dan bisa dipantau dari pusat tanpa harus ke lapangan,” jelas Mashury. Untuk harga jual, diperkirakan lebih murah 50 persen dibanding radar pesaing dari negara Polandia yang dibandrol Rp 9 milyar.
Lebih lanjut Mashury menjelaskan, LIPI sudah ditugaskan oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi untuk membuat radar versi militer dengan teknologi yang sama untuk dipasang di kapal milik TNI AL pada tahun 2010. “Saat ini semua radar di kapal TNI AL masih impor. Hanya radar dan senjata saja memakan 55 persen dari total harga kapal,” ucapnya.
Selain TNI AL, kata Mashury, berbagai pihak mulai tertarik menggunakan radar tersebut seperti Badan Koordinasi Keamanan Laut, Departemen Perhubungan, pihak swasta untuk pengawas pelabuhan, dan beberapa pihak asing. “Di Asia Tenggara cuma kita yang bisa buat (radar),” ujarnya.
Indonesia adalah negara maritim yang memiliki wilayah laut yang luas. Untuk menjaganya diperlukan antara lain kapal patroli. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Indonesia memproduksinya. Kapal patroli produksi PT Lundin Industry Invest di Sukowidi, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur ternyata diminati sejumlah negara di Asia Tenggara. Angkatan Laut Singapura dan Malaysia membeli sekitar 24 unit. Negosiasi tengah berlangsung dengan Brunei. Di Indonesia, TNI AL, Badan SAR Nasional (Basarnas), dan Badan Koordinasi Keamanan Laut juga membeli kapal dari PT Lundin.
Pelatihan pengoperasian kapal patroli produksi PT Lundin digelar di perairan sekitar Pelabuhan Benoa, Denpasar, 12 November 2009. Ada tiga kapal jenis rigid inflatable boat (RIB) atau sekoci cepat yang digunakan. Pelatihan diikuti, antara lain oleh tim dari Basarnas, Marinir TNI AL, serta personel Angkatan Laut Malaysia dan Singapura.
Pemilik PT Lundin Industry Invest, Lizza Lundin, menyatakan, pembelian kapal oleh TNI AL dan Angkatan Laut Singapura serta Malaysia adalah bukti kepercayaan institusi itu terhadap kualitas kapal produksinya. ”Sebagai warga asli Banyuwangi jelas kita bangga. Selain mampu memproduksi, hasil karya kita dipakai oleh angkatan laut negara asing. Bagi kami, kehormatan bekerja sama dengan TNI AL,” kata Lizza yang mengembangkan PT Lundin bersama suaminya yang asal Swedia, John Lundin.
Kontrak pembelian dan kerja sama PT Lundin-TNI AL dimulai tahun 2007. Selain membeli 10 kapal RIB dan 12 kapal Catamaran, kedua pihak juga sepakat bekerja sama dalam rangka penelitian dan pengembangan rekayasa kapal patroli cepat, peningkatan kemampuan sumber daya manusia, dan pembangunan fasilitas galangan untuk pembangunan kapal patroli.
Tentara merupakan bagian penting dari pertahanan dan kekuatan militer. Unsur paling utama adalah personel pembawa senjata atau pasukan infanteri. Namun, tak kalah penting, dalam penyerangan, penyergapan, pengintaian maupun penyusupan, tentara mesti didukung oleh alat angkut personel taktis yakni kavaleri, yang saat ini umum dipakai sebagai sebutan untuk kekuatan tempur darat kendaraan berlapis baja. Salah satu jenis peralatan kavaleri dengan tugas utama mengangkut pasukan adalah panser.
Sejak 2003, PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, telah memproduksi panser dengan kualitas yang membanggakan. Panser-panser Pindad telah dipesan banyak negara, bahkan digunakan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Panser Pindad paling canggih saat ini adalah Anoa, Armoured Personnel Carrier (APC) beroda 6. Namanya diambil dari mamalia khas Sulawesi. Kelahirannya disiapkan untuk mewujudkan kemandirian di bidang alutsista oleh Departemen Pertahanan dan PT Pindad. Tampilannya tidak kalah sangar dengan panser sejenis dari Eropa.
Panser ini mampu melaju hingga 90 kilometer per jam. Anoa tercepat di kelasnya. Hanya butuh delapan detik bagi Anoa untuk berakselerasi dari nol hingga 60 kilometer per jam. Bobot 12 ton tidak menghambat Anoa bergerak lincah di segala medan.
Anoa mampu melompati parit selebar 1 meter, melahap tanjakan dengan kemiringan 45 derajat dan melintasi aneka rintangan. Suspensinya juga terbilang empuk jenis independent modular dan torsion bar. Selain itu, sistem navigasi generasi terbaru ditambah alat komunikasi anti jamming melengkapi interior panser ini. Anoa berbelok dengan menggerakkan sepasang roda depan dan sepasang roda tengah. Walau dengan ban terkoyak peluru sekalipun, Anoa masih bisa bergerak sejauh 80 kilometer.
Tubuh panser tidak bisa dibentuk dari sembarang baja. Anoa menggunakan baja khusus setebal 10 milimeter, kebal dari sebagian besar peluru. Tak hanya itu, Anoa kedap air sehingga mampu menyeberangi sungai. Persenjataan yang sudah terpasang adalah senapan mesin 7,62 mm dan 12,7 mm untuk varian infanteri dan Automatic Granade Launcher (AGL) 40 mm untuk varian kavaleri.
Panser unggulan Pindad ini dirancang dan dibangun sepenuhnya oleh ahli-ahli Indonesia. Satu tim perakit Pindad menyelesaikan satu panser dalam 33 hari. Kini empat tim bekerja bersamaan.
Sekedar diketahui, panser produksi Pindad memiliki kemampuan daya angkut sebanyak 12 orang dengan spesifikasi teknis yang sudah teruji di kondisi negara gurun seperti Lebanon oleh pasukan perdamaian PBB. “PBB sudah menggunakan kendaraan ini sejak awal 2009 di Lebanon sebanyak 8 unit,” jelas Pramadya Wisnu W., Manajer Pemasaran Pindad.
Panser ini mulai menjelajah ke pasar ekspor di tahun 2009 karena sudah memenuhi standar Nato di level III. Artinya tingkat ketahanan dari serangan lebih baik dari level II yang di produksi di China dan India. “Hanya peluru tertentu yang bisa menembusnya dan itupun dari jarak dekat,” kata Pramadya.
Pesanan telah datang dari banyak negara, mulai dari Malaysia dan Timor Leste hingga Nepal dan Afrika Selatan. Pesanan panser terbanyak datang dari Kerajaan Oman yang melakukan pengadaan panser sebanyak 200 unit untuk keperluan penjagaan ladang minyaknya. Banyaknya pesanan dari kerajaan Oman tersebut, mengakibatkan Pindad dan suplier merencanakan untuk memproduksi secara bertahap selama 4 tahun ke depan.
Malaysia ternyata juga kepincut dengan Panser Anoa. Negeri jiran itu telah memesan 30 unit pada tahun ini.
Negara lain yang juga ingin memiliki Anoa adalah Nepal, yang juga memesan 30 unit. Chili dan Portugal juga berminat, dan saat ini masih dalam tahap negosiasi. Selain Anoa, Pindad juga mendapat order kendaraan water cannon dari Timor Leste sebanyak 4 unit.
Panser bukan cuma satu-satunya produk Pindad yang laris. Ada juga pesanan peluru. Tak tanggung-tanggung, Amerika Serikat memesan 10 juta peluru untuk memenuhi kebutuhan tentaranya. Namun sayang, “Kami tidak mampu memproduksi sebanyak itu dalam kondisi waktu yang mereka minta,” kata Pramadya. Dari order 10 juta peluru, Pindad hanya bisa memenuhi 1 juta butir dengan nilai transaksi US$ 200.000.
3 Atlit Indonesia Raih 2 Emas, 2 Perak & 1 Ribbon di Special Olympics World Winter Games, AS
Indonesia memang tidak mempunyai musim dingin (winter) dan tidak pernah mengalami cuaca bersalju, akan tetapi 3 atlet putra Indonesia, yakni Abdul Hadi, Chahyo Estiadi Budi Syahputro dan Johanes Nugroho Kurniawan, ternyata mampu berprestasi dengan meraih 2 medali emas, 2 perak dan 1 ribbon (pita) pada Olimpiade Spesial Musim Dingin (Special Olympics World Winter Games pada 7-13 Februari lalu di Idaho, AS.
Abdul Hadi berhasil menyumbangkan medali emas di cabang lari 400 meter nomor snowshoeing (sepatu salju). Sementara Chahyo tampil sebagai juara di nomor 100 meter dan meraih perunggu di nomor 200 meter. Medali perunggu diraih Johanes Nugroho Kurniawan di nomor 25 meter snowshoeing.
Selain medali emas, perak, dan perunggu untuk juara pertama, kedua dan ketiga, panitia juga memberikan penghargaan berupa ribbon (pita) bagi mereka yang berada di urutan keempat sampai ketujuh.
Pesta olahraga yang khusus untuk penyandang cacat tuna grahita itu diikuti sekitar 2.500 atlet yang berasal dari 100 negara lebih. Terdapat tujuh cabang olahraga musim dingin yang dipertandingkan dan masih asing untuk masyarakat Indonesia, yaitu alpine skiing, cross-country skiing, figure skating, floor hockey, snowboarding dan speed skating.
Menurut pelatih Suwanda Rokim, para atlet tersebut melakukan latihan secara khusus di kawasan Gunung Gede, Jawa Barat dan lari dengan menggunakan lintasan berpasir.
Deputi Bidang Pemberdayaan Olahraga Menegpora Junusul Hairy menegaskan bahwa atlet tuna grahita sudah sering meraih prestasi membanggakan di Spesial Olympics, tapi untuk musim panas.
“Ternyata di Spesial Olympic pada musim dingin, atlet Indonesia juga bisa berprestasi. Pemerintah bertekad untuk mendukung keikutsertaan atlet Indonesia di Spesial Olympic pada tahun-tahun mendatang, serta pada multi event internasional lainnya,” kata Junusul.
Pada awalnya, Pengurus Pusat SOIna berencana mengirim enam atlet, tapi kemudian memutuskan untuk hanya mengirim tiga atlet karena keterbasan dana.
Mahasiswa Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang di ajang internasional. Tim Ganesha ANT berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Japan Society of Information and Communication, IEICE, pada lomba perancangan chip: LSI-Design Contest 2009 di Okinawa, Jepang pada 23 Maret yang lalu.
Ganesha ANT, beranggotakan mahasiswa STEI ITB: Tyson, Aisar L. Romas, dan R. Siti Intan, berhasil menyisihkan finalis dari Universitas ternama di Jepang dan Korea. Pada lomba yang sama, satu tim lagi, yaitu Team Zoiros, mendapat penghargaan dari Multinational Company, Xilinx® Award.
Team Ganesha ANT mengajukan rancangan prosesor baru yang dapat mengeksekusi proses secara paralel. Prosesor tersebut memiliki keunggulan dalam kecepatan proses dibanding prosesor yang umum dipakai sekarang. Hasil rancangan tim tersebut berupa prototipe komputer kecil yang dapat menjalankan “Game Hangman”.
Para juri sangat terkesan dengan inovasi baru dalam prosesor tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan harapan yang disampaikan juri agar prosesor tersebut dapat diterapkan di Industri IT. Para juri pun berujar bahwa prosesor karya mahasiswa ITB ini dapat meningkatkan kinerja perangkat elektronika seperti Komputer, PDA, Smart Phone dan lain sebagainya. Teknologi prosesor sendiri saat ini biasanya dikuasai oleh industri-industri hi-tech, seperti Intel, Sun Microsystems, dan IBM.
Tim Zoiros yang membuat rancangan prosesor dengan kecepatan mencapai 1 GigaHertz berhasil menunjukkan keunggulan sistem mereka dari peserta lainnya. Prototipe komputer tim yang beranggotakan mahasiswa STEI ITB: Randy Hari Widialaksono, Ahmad Fajar Firdaus, dan Iman Prayudi juga dapat memperagakan kemampuan prosesor dalam menjalankan “Video Game Sokoban”.
Kedua Tim dipersiapkan selama 6 bulan melalui kuliah perancangan chip di STEI ITB oleh Dr. Trio Adiono. Lomba ini merupakan lomba tahunan bertaraf internasional yang diadakan di kota resort paling terkenal di Jepang, yaitu Okinawa. Keberangkatan tim ini didukung oleh Cisco Systems Indonesia dan Alumni ITB 75.
Para juri pada lomba ini berasal dari akademisi dan perusahaan-perusahaan terkenal di dunia elektronika internasional. Prestasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan negara industri lainnya, khususnya dalam industri microchip dan IT. Hal ini juga sekaligus menunjukkan kesiapan ITB sebagai institusi pendidikan bertaraf internasional.
Lomba ini ditujukan untuk melahirkan pakar-pakar perancang chip di daerah yang terkenal dengan industri elektronikanya, yaitu Jepang, Korea, China, Taiwan sampai dengan Singapura, dimana kebutuhan akan keahlian tersebut sangatlah tinggi.
“Kapasitas anak-anak Indonesia tidaklah kalah untuk bersaing dengan siswa asing di bidang pendidikan. Hanya saja, kata dia, sistem pendidikan di Indonesia belum bisa menyatukan potensi-potensi anak bangsa yang tersebar, yang jika disatukan bisa menjadi kekuatan besar. Barangkali, selama ini kita hanya kurang baik manajemennya” kata Shofwan Al-Banna Choiruzzad.
Sofwan adalah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang memenangkan The 39th St Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7–9 May 2009.
St Gallen Symposium adalah acara tahunan yang dihadiri sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia untuk berdialog dengan para pemimpin muda. Dalam acara tersebut, para ratusan pemimpin muda diseleksi lewat karya tulis bertemakan krisis global, untuk kemudian diambil 3 terbaik dan dipersilakan menyampaikan gagasannya di hadapan forum dunia.
Anak muda kelahiran Juli 1985 ini, menjadi pemenang pertama dari tiga besar tersebut. Dengan karya tulis berjudul ‘Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors’, ia mengungguli Jason George, mahasiswa program master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3).
“Saya bersyukur dan (penghargaan ini) membuatku yakin bahwa kita semua bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik di masa depan,” ujar Shofwan.
Di kota tua St Gallen itu, sejumlah 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda mengenai krisis global hari ini.
Dari kalangan politisi, daftar pembicaranya antara lain Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz, Presiden Serbia Boris Tadic, Presiden Estonia Ilves, Kepala Japan Bank for International Cooperation Hiroshi Watanabe, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Hiroyuki Ishige, Menteri Perdagangan dan Industri India Kamal Nath, sampai Menteri Keuangan Singapura Shanmugaratnam.
Nama-nama besar juga ada di daftar pembicara dari kalangan bisnis. Mulai dari CEO PriceWaterHouseCoopers, CFO Airbus, wakil dewan direktur FIAT, direktur Hindustan Construction, sampai Pimpinan Dewan Direktur Embraer Brazil.
Selain dari kalangan politik dan bisnis, tokoh dunia lain yang tampil di depan adalah para ilmuwan seperti Pemenang Nobel Robert Aumann, Presiden Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) Torsten Akesson dan juga jurnalis seperti Riz Khan dari Al Jazeera dan Peter Day dari BBC.
Yang namanya menaklukkan lautan yang ganas dan jauh dari negeri asalnya memang bukan hal mudah. Zaman dulu dan sekarang, besarnya armada dan kecanggihan kapal yang dimiliki menjadi hal yang harus dipenuhinya. Tapi kalau sudah masuk ke pemuasan pelanggan kelas tinggi, ini menyangkut kombinasi antara operational excellence, track record, jangkauan layanan serta keberadaan di semua rute pelayaran dunia.
Kondisi yang berat tersebut bisa dipenuhi oleh PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) dan kini perusahaan ini bahkan dikenal sebagai a leading tanker operator in the world.
Didirikan di tahun 1981 sebagai pemain domestik tanker minyak Pertamina, BLTA kemudian berkembang ke tanker untuk bahan-bahan kimia dan gas. BLTA bukan hanya berkembang dalam hal jenis produk, tapi juga dalam jangkauan pasar, jaringan pemasaran, dan tentu saja armada tanker-nya.
Hal ini semua diperlukan karena seiring dengan berjalannya waktu, BLTA bukan hanya bergantung pada Pertamina, tapi bahkan mampu menjadi pilihan perusahaan minyak dan kimia terkemuka dunia, seperti Exxon Mobil, Shell, BASF, SABIC dan Dow Chemical.
Kemampuan tersebut semakin kuat setelah BLTA mengakuisisi operator tanker lainnya, termasuk Chembulk Tankers LLC dari Amerika Serikat di tahun 2007. BLTA juga memiliki Asean Maritime Corporation yang diambil alih pada tahun 1998, beserta anak perusahaannya Gold Bridge Shipping Corporation.
Selain melalui akuisisi, BLTA juga meningkatkan jaringan di seluruh dunia dengan pendirian anak perusahaan, antara lain: GBLT UK Shipmanagement (UK) di Glasgow, GBLT Shipmanagement Pte Ltd di Singapore, dan Gold Bridge Shipping Ltd di Hongkong.
Untuk mendukung jaringannya itu, BLTA juga memiliki presence di Bangkok, Shanghai, Beijing, Behai, Mumbai, Dubai, Westport, dan Sao Paolo. Pada saat ini, BLTA punya armada tanker besar dan jumlahnya banyak serta end-to-end operation, termasuk dalam menghadapi ketatnya regulasi di berbagai penjuru dunia terkait dengan bisnis tanker operator.
Dengan jaringan yang luas ini, tidak heran kalau komposisi pelanggan BLTA tersebar di seluruh dunia, tanpa ada satu pelanggan yang menyumbang lebih dari 5 persen penerimaan perusahaan, kecuali Pertamina sebesar 6 persen.
Walaupun perusahaan ini mendapatkan 90 persen penghasilannya dari luar negeri, tapi sepertinya potensi perkembangan di Indonesia juga menjadi target ke depan bagi BLTA. Hal ini seiring dengan undang-undang yang mewajibkan penggunaan kapal berbendera Indonesia untuk mengangkut muatan antar pelabuhan di Indonesia. Dengan kondisi Pertamina yang saat ini masih menggunakan operator berbendera asing pada 70 persen dari kapal yang mereka sewa, BLTA melihat potensi pertumbuhan yang signifikan dari pasar nasional ini.
Harus diakui, kunci sukses perkembangan BLTA, yang dual listing di BEI dan bursa Singapura di tahun 2006, bukan hanya terletak pada reputasi yang bagus dalam safety dan reliability dan ketersediaan armada tanker, tapi juga dalam hal competitive prices.
Andalan lain BLTA dalam meningkatkan competitiveness-nya adalah variasi kapal yang dioperasikan oleh perusahaan. Dengan ukuran kapasitas kapal dari 1.250 DWT hingga 150.000 DWT, dan jenis kapal yang dapat mengangkut muatan cair dari berbagai jenis, BLTA mampu memberikan total solution bagi pelanggannya.
BLTA sendiri sepertinya cukup optimistis dalam menghadapi krisis finansial dunia. Bahkan Widihardja Tanudjaja, Presiden Direktur dari BLTA, yakin bahwa krisis kali ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kekuatan dan terus tumbuh. Ini didasari pengalaman masa lalunya dimana pertumbuhan setelah krisis justru adalah periode pertumbuhan BLTA yang paling cepat.
Trans TV Menjadi The First Media ISAS BC 9001 Certified di Dunia
Pada Asia Media Summit di Kuala Lumpur, Mei 2008, Dr. S.K. Ishadi, Presdir Trans TV memperlihatkan plakat prestasi TransTV sebagai media pertama di dunia yang memperoleh sertifikat ISAS BC 9001. TransTV dikenal dengan program-programnya yang informatif dan investigatif, yang telah menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional.
Selama workshop yang diikuti para manajer puncak dari 20 lembaga penyiaran di Asia Pasifik, Ishadi menjelaskan bagaimana dia menggunakan manajemen mutu media untuk menunjang para karyawannya mencapai kualitas yang diharapkan. Seritikasi yang didapat TransTV merupakan hasil dari proyek yang melibatkan seluruh karyawan tersebut.
ISAS BC 9001 adalah standard manajemen mutu berdasarkan ISO 9001 dan dibuat khusus untuk media elektronik. Sebuah ISAS BC-sistem manajemen mutu adalah cara yang paling efisien untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Ini adalah mekanisme yang paling baik untuk mengidentifikasi persyaratan penonton dan masyarakat umum, dan membantu dalam memfokuskan pada tujuan strategis perusahaan dan pelaksanaan misi penyiaran publik.
ISAS BC 9001 adalah standard yang dibuat sejak tahun 2003 oleh Media & Society Foundation (MSF) yang bermarkas di Jenewa, Swiss. Standard ini diperuntukkan media radio & TV.
Tim Indonesia Raih Medali, Best Presentation & Best Cooperation di International Earth Science Olympiad, Taiwan
Tim Olimpiade Kebumian Indonesia yang diwakili 4 orang siswa, yaitu Sarah Sausan (SMAN 3 Malang), Fraga Luzmi Fahmi (SMA Terpadu Madani Palu), Urwatul Wusqa (MAN Insan Cendekia Gorontalo), dan Tri Mujianto (SMAN 1 Gemolong, Sragen, Jateng) berhasil meraih prestasi gemilang dengan perolehan 1 perak dan 2 perunggu dalam ajang International Earth Science Olympiad (IESO) di Taipei, Taiwan, 14 – 21 September 2009.
Medali perak berhasil dipersembahkan oleh Sarah Sausan, sedangkan dua perunggu diraih oleh Fraga Luzmi Fahmi dan Urwatul Wusqa. Selain medali, Sarah dan Urwatul turut pula memboyong penghargaan Best Presentation. Tak mau ketinggalan, Fraga Luzmi Fahmi juga meraih penghargaan Best Cooperation.
IESO tahun ini diikuti oleh 17 negara yakni Argentina, Kamboja, India, Indonesia, Filipina, Inggris, Thailand, Amerika Serikat, Singapura, Nepal, Srilanka, Jepang, Korea, Perancis, Italia, Ukraina dan tuan rumah Taiwan.
IESO adalah ajang kompetisi siswa pra-perguruan tinggi (sekolah menengah) bidang ilmu kebumian yang meliputi geosfer (geologi dan geofisika), hidrosfer (hidrologi dan oseanografi), atmosfer (meteorologi dan klimatologi) dan astronomi. Kegiatan ini dipayungi oleh International Geoscience Education Organization (IGEO) yang merupakan sebuah organisasi internasional dengan anggota para pendidik/organisasi/institusi pendidikan ilmu kebumian di seluruh dunia baik di tingkat pra-perguruan tinggi maupun perguruan tinggi.
Koordinator tim Pembina Dr. D. Hendra Amijaya menjelaskan, siswa diuji kemampuannya dalam tes tertulis dan praktek di laboratorium dan lapangan. Tes tertulis dan praktek meteorologi dan astronomi dilaksanakan di National Taiwan Normal University, Taipei. Sedangkan tes praktek lapangan untuk geologi dilakukan di kawasan Bitou Cape Geopark, Taiwan.
Selain itu terdapat pula kompetisi yang disebut ITFI (International Team Field Investigation). Dalam kompetisi ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari beberapa siswa dari berbagai negara untuk melaksanakan tugas berupa investigasi lapangan sesuai materi yang telah ditetapkan. Dalam kompetisi ini, kerjasama dan kreativitas presentasi menjadi penilaian utama untuk menentukan kelompok yang mendapatkan penghargaan tambahan.
ITFI dilakukan di Taiwan barat yaitu di daerah Chichi yang pernah mengalami gempa bumi pada tanggal 21 September 1999 dengan kekuatan 7,4 SR. Para siswa ditugaskan menyelidiki pergerakan sesar Chelungpu yang merupakan penyebab gempa bumi ini.
Lebih lanjut Hendra menuturkan, dari lima medali emas yang diperebutkan. Empat diantaranya berhasil direbut oleh tuan rumah Taiwan, dan satu emas lainnya di raih oleh Korea. Dari sisi penguasaan materi, siswa Indonesia dapat menyesuaikannya dengan proses pelatihan yang diberikan. Namun, yang masih perlu diperhatikan adalah lamanya waktu pembinaan yang masih kurang.
Prestasi tahun ini sudah lebih baik karena persaingannya terasa lebih berat dan bobot soalnya juga jauh lebih sulit dari tahun sebelumnya. Bahkan prestasi tim Indonesia lebih baik dari negara Amerika, Italia, dan negara-negara Eropa. “Untuk ke depan kita akan merancang strategi pelatihannya. Dari segi materi saya rasa tidak ada masalah, waktu pelatihan tingggal kita tambah lagi,” demikian ujar Hendra.

