Skip to content

Harry Halim: Perancang Busana Asal Pontianak yang Berjaya di Paris

November 1, 2013

IMG_4731Perjalanan hidup Harry Halim (29) memang digariskan di dunia fashion. Berawal dari fotografi dan seni grafis, pria bertato ini memutuskan untuk beralih menekuni ilmu fashion design di La Salle College of the Arts, Singapura. Sebuah pilihan yang kemudian mengantarkannya meraih pencapaian karier yang membanggakan.

Awalnya, seorang dosenlah yang memotivasinya untuk mengembangkan talenta di ranah fashion. Sebagai seseorang yang memiliki minat mendalam terhadap segala sesuatu yang bernapaskan kreativitas, ia menuruti saran tersebut.

Ternyata intuisi sang dosen tidak salah. Tak lama setelah melansir koleksi perdana busana wanita pada tahun 2006 di Singapura, Harry berhasil memenangkan ajang Asian Young Designer Contest, dan diperhitungkan sebagai finalis dalam Mercedes Benz Asia Fashion Awards.

Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, perancang kelahiran Pontianak ini sempat melakoni bisnis yang mengharuskannya bolak-balik Singapura-Paris.  Pada kali pertama berdiri di kapital mode, Paris, seketika itu ia langsung jatuh hati.

Baginya, kota yang identik dengan romantisme ini, setiap sudutnya seolah menebarkan misteri. Sebuah kontras yang membuatnya selalu merindukan Paris. Kekagumannya inilah yang melatari impian bahwa satu hari nanti, ia akan berkarya dan menetap di Paris.

“Ada sesuatu yang menarik di kota ini, seperti sisi gelap, misterius, dan kesan suram yang ada di dalamnya,“ ujar Harry dengan lugas saat sesi wawancara yang berlokasi tak jauh dari Springsioux, Paris, butik dua lantai di mana sejumlah koleksi busananya dipamerkan dan dijual.

Pada tahun 2008, lagi-lagi ia menuai prestasi, ajang Asian Young Fashion Designers menobatkannya sebagai Best Asian Designer of the Year. Pencapaian ini semakin memantapkan niat mewujudkan mimpi besarnya. Tak mau menunggu lebih lama lagi, di tahun yang sama Harry memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di Singapura, dan hijrah ke Paris!

“Padahal saat itu, belum ada kepastian dan pekerjaan di sini, benar-benar murni modal nekat!” urainya dengan tatapan yang jauh mengingat masa lalu.

Untuk beradaptasi dengan budaya dan gaya hidup warga Paris, Harry mengaku membutuhkan waktu dua tahun lamanya. Selama itu pula ia memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk mempelajari sistem, cara kerja, bisnis, dan pergerakan tren pada industri fashion di Paris.

Padahal saat itu ia belum terpikirkan untuk membuat label busana seperti apa. Meskipun telah berulang kali memenangkan ajang penghargaan mode di Singapura, pria berkulit putih ini merasa masih perlu untuk mengasah ilmu dan talentanya menjadi lebih baik lagi.

Akhirnya pada tahun 2009, ia resmi merilis koleksi busana Fall/Winter 2010 yang mengusung label Harry Halim! Perasaan bangga menyelimuti dirinya, saat kali pertama melihat debut rancangannya di Paris dipamerkan di atas pentas peraga Paris Fashion Week. Selain itu, apresiasi positif dari para pelaku dan kritikus mode dunia semakin menyempurnakan rasa bahagianya.

“Saat memutuskan untuk pindah ke sini, saya hanya percaya satu hal, kalau tidak berani mencoba, saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi,” kenang Harry. Sampai hari ini, ia mengaku semua masih terasa seperti fantasi bahwa dirinya yang seorang Indonesia dengan bekal nekat datang ke Paris demi memanifestasikan mimpi sebagai seorang desainer.

Kenangan di masa awal kehidupannya di Paris dahulu terus dijaga oleh Harry sebagai alarm yang mengingatkannya untuk tidak terbuai di tengah kesuksesan ini. Bahwa mempertahankan prestasi, jauh lebih sulit dibandingkan perjuangan saat meraihnya.

Sumber: female.kompas.com (31/10/13)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: